I have been blind…unwilling
To see the true love you’re giving
I have ignored every blessing
I’m on my knees…
Confessing
Sayup-sayup kudengar suara emas Josh Groban di Executive Lounge Cengkareng. Sudah 1,5 jam aku terpekur disini, menunggu pesawatku yang lagi-lagi terlambat. Dan 1,5 jam pula aku mengumpat-umpat dalam hati untuk kesewenang-wenangan pihak maskapai yang terus saja seenak perutnya mengganti schedule penerbangan. Aku tak tertarik sama sekali dengan setumpuk makanan dan majalah disudut ruangan, aku hanya ingin segera balik ke Yogya! Banyak hal yang harus kulakukan disana, meski baru 1 hari kutinggalkann kota itu. Banyak hal…..
Umpatanku dihentikan oleh syair Richard Page yang dengan indah dilantukan si Groban. Bukan karena suaranya sehingga perhatianku beralih, tetapi karena kata-kata yang tersirat sangat dalam. Membawa anganku kembali pada sebuah realitas yang sedang kuhadapi. Oh Tuhan…kenapa Kau ingatkan kembali aku pada semua itu? Sangat menyiksa jika kuharus berfikir dan mengingat ditempat ini…sendiri. Ku ingin segera kembali ke Yogya…
I have been wrong about you
I thought I was strong without you
For so long
Nothing could move me
For so long
Nothing could change me
Kali ini aku kembali mengumpat!! Untuk kebutaan yang terus menutupi naluriku. Bahkan ketika logikaku berulangkali mengingatkan bahwa dia sangat berarti untukku. Kembali kuberusaha mengingat telah berapa kali aku mengucap syukur dengan hatiku (bukan hanya mulutku) atas anugrah terindah itu? Oh Tuhan…bahkan aku bisa menghitungnya dengan jariku! Sebuah ketulusan yang tak pernah lelah hadir diantara segala kelemahanku…segala alpaku. Cinta yang lahir dari kecintaan pada Rabb nya, membuat dia mampu untuk terus tersenyum ditengah lara yang kadangkala mendera. Senyum itu terus hadir, meski aku tahu kadang senyum itu tuk menutupi tangis yang hampir tumpah.
My Lord…maybe I have ignored every blessing. Yaa…ketika ku jauh baru kusadari bahwa selama ini aku memang telah benar-benar buta! Buta oleh harapan-harapan dan kebodohan yang kubangun sendiri. Sekuat dan sekeras apapun aku, shearusnya kusadari bahwa sebagian dari diriku telah berpindah padanya. Sekian lama tidak ada yang mampu merubahku dengan segala kebebalanku…dan hanya dia!. Bukan dengan batu untuk melawan batu, tetapi dengan kejernihan air embun yang jatuh perlahan. Sejuk….
Kembali kumasuki lorong waktu yang pernah kulalui. Tiba-tiba kebencian merasuk pada jiwaku atas kemunafikan yang kubangun dalam logikaku. You know the truth, God…and I can’t to say that anymore Bahkan kepada Mu, kutak mampu bercerita tentang alur yang kubangun. Terlalu menyakitkan dan nista. Tapi Kau maha tahu, bagaimana aku sendiri sebenarnya muak pada semua itu, tapi aku tak bisa lepas. Dan Kau pun tahu bagaimana tersiksanya aku dengan seala kebimbangan ini. God…I really need Your Hand, no one can help me…except You…
That I feel my heart surrender
Each time I see your face
I am staggered by your “beauty”
Your unassuming grace
And I feel my heart is turning
Falling into place
I can’t hide it
Now hear my confession
Dan dengarkanlah pengakuanku…
Yang tak perlu kuungkap dengan sederet kata manis, karena aku tak lagi mampu berkata. Dengarkanlah tangisan jiwaku yang tersiksa oleh kealpaan. Ku tahu, bahkan sejuta maafku tak kan mampu menghapus semuanya. Entah dengan apa lagi kuharus berkata….meski kutahu, hatimu seluas samudera.
Dan dengarkan pengakuanku…
Terima kasih atas semua pengertian dan cinta yang tak henti kau berikan. Dan terima kasihku untuk semua ketulusan yang akan kau lakukan, karena selalu ada kejutan dalam setiap jengkal waktu yang kulalui.
You’re the air that I breath
You`re the ground beneath my feet
When did I stop believing?
Akhirnya…setelah 2.5 jam, panggilan itu datang juga. Kulirik jamku…19.15 WIB. Kuayunkan langkahku menuju pesawat dengan pikiran yang masih tak berhenti berkelana. Kali ini tanpa umpatan tapi sebuah tanya…sejak kapan aku mulai berhenti percaya bahwa kau yang terbaik untukku? Retoris memang…tetapi tak mudah untuk menjawabnya. Tapi aku sudah punya sejumput asa yang kan kubawa pulang. Asa untuk melangkah kedepan dengan sesuatu yang baru, yah….akan kutata kembali semuanya. Aku percaya, bahwa dia dan Dia masih memberiku setumpuk maaf dan kesempatan. Tanpa kusadari kutersenyum…senyum kepastian.
Kulongok kepalaku keluar jendela…..Jakarta mulai tampak kecil dengan kelap-kelip lampu yang membuatnya semakin pongah.
Aku yakin di Yogya ada sebuah senyum yang siap menyapaku. Kan kuberikan senyum terbaikku untukknya…lebih dari sekedar senyum, tetapi sesuatu yang tak terungkapkan. Biarlah dia tak perlu tahu perjalanan anganku selama 1 jam tadi….cukuplah Dia yang memahami dan aku yakin Dia tersenyum untuk kesadaranku.
Terima kasih Tuhan…untuk pelajaran Mu hari ini
Re-write:
Yogyakarta, 4 Agustus 2008
Filed under: Life Ditandai: | Cinta, Kehidupan, Kejujuran, Kepercayaan, Life, Maaf





