Tepat lima tahun yang lalu (kurang 2 bulan)…di sebuah ruang kerja KPU (provinsi…). Diantara kepenatan yang luar biasa aku menyusuri satu persatu inbox emailku. Mataku tertarik pada sebuah surat dari alamat email yang tidak kukenal. Dengan penasaran kubuka dan isinya cukup mengagetkan…meskipun aku tidak heran. Dengan menggunakan “Subjek”: “Bisakah Anda Menolong Saya?” si pengirim menanyakan kesediaanku untuk membantunya “mengamankan” hasil verifikasi dukungan atas pencalonannya sebagai anggota DPD. Meski aku tak tahu apakah si pengirim email memang sang Calon DPD itu, atau pendukungnya, atau tim suksesnya…atau mungkin juga temenku sekantor yang lagi iseng…tapi email itu segera ku balas. “Maaf, Saya tidak bisa membantu Anda”.
Temanku satu ruangan yang juga asisten anggota KPU langsung berkomentar ketika dia kuperlihatkan email itu. “Payah…coba kalo jawab aja….’Anda berani bayar saya berapa?’ Kan bisa beli motor baru!” ujarnya setengah bercanda…atau memang serius ya J. Entahlah…yang pasti aku meresponnya dengan melemparkan sepotong kue yang mendarat manis di jidatnya…dan aku langsung ngacir.
Aku berusaha melupakan email itu, meski cukup sulit karena setelah itu “godaaan-godaan” serupa terus saja berkali-kali berdatangan meski dalam “nominal” yang lebih kecil. Tidak hanya padaku…tetapi pada semua yang ada di sana. Dan semua orang yang ada dalam institusi ini. Peraturan yang dibuat secara karbitan menimbulkan sekian banyak lubang di sana –sini. Multi interpretatif. Hanya seonggok darah yang disebut hati yang membatasi apakah manusia tersebut akan silau atau tetap saja linier pada apa yang diyakininya. Sering nurani ini berontak melihatnya, dan berusaha menelikung dari apa yang disebut “biasa”. Tetapi apalah daya…dan semoga ini bukan sebuah bentuk apologi ku. Dan jujur kuakui, beberapa kali aku pun menjadi bagian dari “mereka”. Termasuk bagian dari ketidakadilan. Aku hanya sebuah noktah dalam institusi itu…aku bukan siapa-siapa.
Tapi aku tetap manusia rapuh yang dengan sisa-sisa keberanian menyatakan mengundurkan diri…meski ada satu sisi dalam diriku yang melarangnya. Bodoh! Dengan sebanyak itu kemudahan, fasilitas, akses dan kepercayaan…aku mengundurkan diri. Semua orang menyayangkan. Semua orang! Hanya suamiku dan orangtuaku yang tahu bagaimana lelahnya aku berada dalam dunia yang membantingku setiap hari secara emosional, keyakinan dan kreatifitas. Aku mengundurkan diri di saat aku sedang dalam puncak-puncaknya kepercayaan mereka dan tepat beberapa bulan sebelum kasus yang seringkali kukhawatirkan menjadi kenyataan. Beberapa bulan kemudian…di Jakarta…kasus Mulyana mulai membuat heboh negeri ini…dan di provinsi ini…paling tidak di 2 kabupaten…nama orang-orang yang sangat kukenal mulai menghiasi berita koran dengan tajuk “Korupsi KPU”.
Tepat 2 minggu yang lalu, sebuah sms dari teman lamaku…temanku satu ruangan itu…membawa anganku kembali pada semua sekelumit fase 3 tahun dalam hidupku.
“Apa kabar sobat ku? Pas aku liat kasusnya Agus Condro PDI-P aku kok jadi inget kamu. Coba kalo dulu kamu terima itu ‘permohonan bantuan’….kan sekarang enak. Ikutin aja caranya si Agus. Terima uangnya…trus kalo udah mulai diintai KPK…datangin aja KPK trus balikin tuh uang. Toh sama KPK, duitnya yang sudah jadi mobil suruh bawa lagi. Enak banget kan? Ha ha ha….”
Aku hanya tertawa dengan keisengannya. Tertawa di antara mirisnya realitas saat ini. Ketika Tuhan hanya hadir dalam ruang-ruang rumah ibadah dan terbelenggu di dalamnya, tanpa Dia bisa keluar dan hadir di antara semua aktifitas kehidupan manusia…semuanya pasti akan berakhir seperti itu. Hipokrit!
Memang sulit membawa Tuhan hadir dalam aktivitas diluar ritual ibadah…tapi ketika mendengar nama Nya pun ketakutan kita sudah tak ada, dan dengan santainya memakan kehidupan dan masa depan anak-anak negeri ini…apakah itu masih bisa disebut manusia?
Saat ini aku baru bisa memahami apa yang dimaksud oleh seorang temanku…yang kurekrut untuk membantu pekerjaanku di KPU. Dihari-hari yang luar biasa sibuk pada saat proses verifikasi calon DPD dan caleg 2004 mulai menjelang akhir…ruangan kami penuh dengan segala macam makanan dan bingkisan. Sampai-sampai aku sudah tidak bisa lagi menulis di mejaku…penuh! Meja komputerku pun penuh! Makanan dan bingkisan yang tidak pernah berhenti daatang dari para peserta pemilu. Semua orang di kantorku dengan santai meyantapnya….dan membawa pulang semua bingkisan itu. “Yang penting kita tidak berbuat curang setelah menerima semua pemberian ini”, kata seorang Bapak yang kusegani karena ibadahnya yang taat.
Tetapi tidak demikian dengan temanku itu. Tidak ada satu butir anggurpun, atau sepotong kecil rotipun…atau sebutir nasipun yang dia makan. Dia hanya memakan jatah snack dan makan siang dari kantor….yang lainnya selalu dia bawa pulang, termasuk bingkisan-bingkisan lainnya…yang lumayan harganya. Iseng, suatu hari aku ikuti dia ketika pulang, cukup terkejut ketika di sebuah pangkalan becak dan perempatan lampu merah dia berhenti. Ya Allah…dia berikan semua yang dia bawa susah payah itu, kepada abang becak dan anak-anak jalanan. Padahal aku tahu benar, dia bukan orang yang mampu. Dengan penuh penasaran, malamnya aku bertandang ke kos nya. Kuberusaha meminta penjelasan dari ketidak mengertianku. Bukankah semua adalah hak kita…toh yang penting kita tidak membuat kecurangan.
Dengan bahasa yang lugas…dia hanya berkata:”….tapi yen,mereka tidak akan memberikan semua bingkisan itu jika kita tidak dalam pekerjaan saat ini. Apakah jika kamu bukan asisten anggota KPU…yang memegang ‘kunci’ semua data base mereka…apakah mereka juga akan memberimu semua bingkisan itu? Dan menurut Rasulullah dan shahabat maka barang-barang itu bukan hak kita. Apalagi…aku pun tidak yakin, apakah semua yang mereka beli itu memang uang mereka…atau uang….ya…begitulah yen…kamu lebih ngerti dari aku.”
Kutatap wajahnya yang dibalut jilbab putih yang sudah demikian lusuh. Subhanallah…darinya aku mendapatkan pelajaran berharga. Bukan pelajaran baru..karena akupun sebenarnya sudah tahu. Tapi entahlah…seakan aku baru tersadar dan memoriku yang hang baru bisa berjalan normal kembali untuk memaknai arti pelajaran tersebut. Tanpa kusadari, perlahan tapi pasti nilai-nilai yang demikian kuyakini bergeser. Tergerus oleh sesuatu yang sudah dianggap “biasa”. Aku bahkan lupa atas sebuah kisah yang membuatku mengharu biru…kisah seorang Shahabat Rasulullah…yang saat itu menjadi khalifah. Ketika suatu hari Sang Khalifah duduk di ruang kerjanya sambil menulis sebuah surat, tiba-tiba anaknya datang dan ingin berbicara dengannya tentang masalah pribadi. Serta merta Sang Khalifah mematikan lampu minyak yang ada di mejanya sehingga ruangan pun gelap gulita. “Kenapa dimatikan lampunya, ayah?” tanya sang anak. “Demi Allah…apa yang akan kita bicarakan adalah urusan keluarga kita …bukan urusan umat, anakku. Sedangkan minyak lampu ini dibeli dengan cucuran keringat umat…dan hak darimana kita menggunakannya untuk urusan di luar urusan umat?” tutur Shahabat kepada anaknya yang masih belia.
Tuhan…lihat apa yang ada di negeri ini. Bagaimana mungkin negeri ini akan mendapat berkahMu jika mereka tak pernah menghadirkan Mu di ruang-ruang kerja mereka. Topeng-topeng yang juga tak mau dilepas dari muka-muka busuk mereka. Muka yang bahkan arti moralitas pun sudah bingung untuk didefinisikan.
Bisakah Anda membantu saya….jelaskan pada saya apa yang saat ini sedang terjadi di negeri ini.
Karang Ploso, 26 Agustus 2008
Filed under: Sosial, Politic and Humanity Ditandai: | Kejujuran, Korupsi, KPU, Politic






Subhânallâh… mahal (murah) nian harga sebuah idealisme…
Beberapa belas thn lalu, Ayah saya (alm) berada di posisi basah di sebuah bank ternama yg juga sudah alm. Mejanya penuh parsel pada masa2 tertentu. Beruntung beliau beristrikan seorang idealis agamis, yg bisa dgn mudahnya melempar hiasan dinding mahal “hadiah” seorang kreditor ke tong sampah.
Jadilah kami hanya punya 1 rmh kecil, 1 mobil butut & barang2 sederhana, selama masa jabatannya. Sedangkan yg selevel ayah pada masa itu… Wuiiih, jangan tanya!
Teteh, lâ tahzan! Orang2 spt teteh memberi inspirasi bagi bumi & langit!!!
(eeeh, ini teh komentar apa postingan sih!?! Punteeen pisan ya teh… saya gampang terbawa suasana. Melankolik, gitu istilahnya ya?)
Bârakallâhu fîk….
Subhanallah…masih ada orang yang sehebat dengan Ayah Anda. Andai beliau masih ada, saya bisa banyak belajar tentang asti kehidupan dan sebuah idealisme.
Waiyakum, bro…
Makasih banyak atas comment nya…he he sebuah kehormatan bisa menerima tulisan antum disini
hmmm masalah idealisme susah…kalo berhadapan dengan sistem… apalagi PNS
doain aja… soalnya saya ditunjuk jadi ketua pengadaan barang ……
haaaaaaaaaaaaaaaaaah….ahhhh (tarik napas panjangggg)
Yenni says:
Istiqomah memang tidak mudah ya, Pak…
Tapi Pak Heri gitu loh…..ah…masa sih nggak istiqomah D
mending ngisi pelatihan nulis sama ibu2 PKK
perjalanan yang tidak mudah…:)
Yenni says:
Betuuulll sampai mesti kejedot-jedot ama biokrasi
say tidak cari sensasi dari yenny..tetapi cuma mengamini sebuah paradigma bangsa yang semakin terpuruk oleh budaya amoral yang terkadng menghakis kebanggaan idealisme terhadap bangsa sendiri…saya bukan dari kalangan intelektual.seperti anda.tapi saya punya hati untuk berbisik pada angin.”negeriku diambang kehancuran”kuku-kuku kekuasaan semakin mencengkam setiap urat nadi bangsa ..korupsi semakin kronis…rakyat semakin menderita…banyak jiwa yang melayang hanya untuk merebut sesuatu yang hanya bernilai makanan kucing bagi orang kaya…tapi itulah fanomena yang menghiasi wajah muram bangsa kita….smoga indonesia tetap jaya
<em>Yenni says:
Amiin…
Saya tidak pernah merasa bahwa orang2 dengan background edukasi formal “lebih”, juga memiliki nilai “lebih” dalam moralitasnya. Semua kembali pada segumpal darah dalam dirinya…hati…dan sejauh mana dia mau menyadari bahwa segelintir ilmu yang dia miliki hanya sebuah anugerah dari Sang Pemilik Ilmu. Itulah juga saya katakan pada Anda di awal pertemuan kita, bahwa uang tidak bisa membeli apapun dan uang bukan segalanya….
Meminjam istilah anda…intelektual…saya tidak tahu apa makna dari kata tersebut…logika saya sudah terdeskonstruksi dengan realitas saat ini. Anda bisa membantu saya…menjelaskan arti kata tersebut?