GODLY CONFUSION

Diantara hingar bingar pentas sosial politik tahun 1999, sempat muncul anekdot yang merevisi `tiga misteri hidup yang hanya diketahui oleh Tuhan, yaitu kelahiran, jodoh dan kematian`. “Itu dulu”, kata seseorang, “karena misteri itu sekarang menjadi empat! Yang keempat adalah Gus Dur”.

Saya ingat sekali bagaimana saat kali pertama saya baca hal itu dalam tulisan Bisri Effendy, saya tak bisa menahan tawa. Bukan menertawakan Gus Dur, tetapi tak lebih dari ungkapan “setuju” dengan anekdot itu. Gus Dur masih tetap misteri buat sebagian orang, minimal bagi akal saya dalam usaha menelusuri jalan pikirannya. Banyak hal yang tidak juga bisa saya fahami dari bagaimana cara dia memandang sesuatu.

 Terlepas dari semua anekdot dan ketidakfahaman saya, ada tulisannya yang benar-benar menggelitik dan memaksa saya untuk melihat realitas didepan mata. Dalam bukunya Tuhan Tidak Perlu Dibela ,  Gus Dur menggambarkan ketakjuban yang datang bersamaan dengan pertanyaannya akan “kebingungan Ilahi” seorang pendeta bernama Ted Noff yang memimpin sebuah gereja didaerah hitam di jantung kota Sydney. Gereja itu unik, seunik cara Ted Noff dalam merangkul para bandar barkoba dan kaum Hippies disana. Salah satu keunikannya adalah bagaimana dia telah mewakili 130 kebangsaan dalam upacara perkawinan disana dengan menggunakan kepercayaan agama mereka masing-masing. Prosesi pernikahan Katolik, Yahudi, Sikh bahkan Islam pernah diselengarakn olehnya. Unik, sekali lagi, karena gereja itu adalah gereja Kristen. Ketika Gus Dur bertanya bagaimana ia mengawinkan orang Islam, Noff menjawab : “Ya menurut aturan Islam! Yang pentingkan asma Allah. Yang pentingkan Tuhan-Nya orang Islam sudah tahu niat kami untuk menolong. Lainnya itukan hanya bentuk luar saja!”

Bahkan seorang Gus Dur dengan segala sepak terjangnya yang selalu mengundang kontroversi, sempat geleng-geleng gara-gara pendeta itu.

“Ya jelas saya dituduh pembelot, heretic”, jawabnya tatkala Gus Dur menanyakan tanggapan orang-orang Kristen laiinya. “Tapi bukankah masalah ketuhanan memang rumit? Mungkin sengaja dibuat rumit oleh Tuhan, agar kita tertuntut untuk senantiasa berada dalam upaya pencarian hakikat-Nya, walaupun itu tak akan pernah tercapai. Upayanya yang penting, bukan tercapainya hasil yang mutlak”

“Perbedaan keimanan dan agama adalah semacam kebingungan Ilahi yang perlu dialami untuk memaksa kita mengeluarkan apa yang terbaik dari diri kita masing-masing. Muhammad, Budha Gautama dan Jesus benar. Mereka adalah manusia agung yang sudah berkiprah dalam kebingungan Ilahi yang diwujudkan Tuhan. Ini bukan sinkretisme, tetapi justru pencarian titki temu sekian banyak agama yang masing-masing memiliki watak uniknya sendiri”

 Kali ini saya sepakat dengan Gus Dur yang menyebut semua ide-ide sinkretisme Noff sebagai ajaran gombal. Tetapi yang membuat saya tertarik dari semua itu adalah Crisis Center yang didirikan di gereja itu.  Setiap hari lebih dari seratus masalah sosial ditangani disana. Orang berdatangan meminta tolong dan menawarkan tenaga. Tukang pos datang membawa uang sumbangan masyarakat. Telepon berdering-dering dimana-mana. Di beberapa ruangan anak-anak muda menghabiskan waktu dengan berbincang tentang banyak hal. Mereka mantan pemabuk dan tukang keluyuran. Diruangan lain dipertunjukkan film tentang bahaya narkoba dan alkohol dihadapan anak-anak yang jelas sebelumnya bahkan tidak mengenal istilah “Tuhan”.  Meminjam istilah Gus Dur yang termenung tak habis pikir, bagaimana mungkin teologi gombal yang meredusir semua agama dalam rumusan kebingungan Ilahi (Godly confusion) dapat menjadi kekuatan yang demikian positif bagi pelayanan kebutuhan lokal masyarakat yang terletak di kehidupan malam? Bagaimana mungkin dari sebuah KEBINGUNGAN lahir sebuah LANGKAH PASTI mengatasi penderitaan manusia?

 Dengan tidak bermaksud menampik realitas sejarah Lao Tse, Zarathustra atau Budha Gautama yang mendapatkan pencerahan ditengah “Kebingungan” dan pancaroba kehidupan mereka, tetapi fenomena Noff tadi menjadi pertanyaan besar yang sangat mengganggu saya. Tiba-tiba saja saya jadi ingat sebuah pesantren di Jawa Timur, yang dinyatakan sesat oleh MUI gara-gara dalam salah satu kitab pegangannya mengatakan bahwa masih ada Rasul setelah Nabi Muhammad. Secara aqidah, diluar kepalapun saya sudah bisa menyimpulkan bahwa ada yang “tidak beres” dengan ajaran mereka (mohon maaf..saya lebih suka menggunakan kata “tidak beres” dibandingkan “sesat” karena keterbatasan ilmu saya dan  juga saya merasa bahwa penghakiman seperti itu adalah wilayah prerogatif Sang Kholik, bukan makhluk seperti saya). Berarti ada yang “tidak beres “ pada  syahadat mereka. Hanya saja, sama seperti kasus Crisis Center nya Tod Noff, pesantren itu pun dipenuhi berpuluh-puluh pemakai (dan mantan pemakai) yang seadng berusaha sembuh dari jeratan narkoba. Ironis. Sangat Ironis. Kesadaran akan masalah sosial dan kesadaran memberikan kontribusi penyelesaian justru terlahir dari sekelompok orang yang berlabelkan “sesat”?

 Ada juga pesantren yang dipimpin seorang Kiyai mantan preman, yang sholat dengan cara yang tidak lazim yaitu dengan mentrejemahkan doa-doa dalam sholat dalam bahasa Indonesia. Tapi anehnya, justru gara-gara hal yang tidak lazim preman-preman yang sepanjang hidupnya tak pernah melakoni ritual wajib umat Islam itu, dengan kesadaran penuh melakukan sholat. Tanpa ajakan, tanpa paksaan…hanya kesadaran akan kewajiban seorang hamba kepada Tuhan nya.  Aneh memang. Tapi saya sekali lagi bukan bermaksud untuk menganulir keberadaan pesantren-pesantren “lurus” yang mampu mengajak jamaahnya kedalam rengkuhan Ilahi, tanpa Godly Confusion.

 Pertanyaan saya adalah…lalu kemana ajaran-ajaran agama yang penuh dengan jawaban kepastian dan kemantapan? Bukankah segala permaslahan di dunia ini telah termaktub dengan jelas didalamnya dan pasti Tuhan juga telah memberikan jawaban atas segala problematika yang Dia berikan pada hamba-Nya. Saya kurang sepakat dengan kesimpulan akhir Gus Dur dalam buku itu yang mengatakan bahwa lahirnya ajaran gombal tadi adalah akibat ketidakjelasan teologia agama mapan, karena dalam ajaran (Islam) semua permasalahan tadi sebenanrnya sudah jelas jelas jelas ada penyelesaiannay dan dikethaui juga penyebabnya. Tetapi tetap saja saya tidak bisa menampik bahwa teologia mapan tadi tetap saja belum bisa menyentuh realitas sosial masyarakat. Mereka sebagian besar masih hadir secara normatif yang untouchabel. Yang hanya hadir diantara masjid dan surau, tak pernah keluar memasuki ruang-ruang kegetiran hidup pemeluknya. Nilai-nilai normatif yang hanya menjadi sesuatu yang memenuhi batin mereka tetapi tidak bisa lahir untuk menyelesaikan masalah kemiskinan, kelaparan dan kebodohan mereka. Seakan-akan Tuhan hanya hadir dalam sholat dan puasa mereka, tapi tidak pernah hadir tatkala mereka berpanas-panas mencari makan atau bersusah payah mencari utangan untuk biaya sekolah anak-anak mereka.

 Kontemplasi ini bukan bermaksud untuk menyalahkan siapapun, bukan pula untuk membenarkan sinkretisme yang menjadikan kemurnian ajaran Tuhan menjadi gado-gado, tetapi tidak lebih dari keresahan pribadi tatkala melihat fenomena seperti ini. Karena seharusnya kesempurnaan teologia, mampu menyelesaikan semua problematika ummat yang ada.

Wallahu a`lam bi showab

 Yogyakarta, 15 Juli 2005

11 Tanggapan

  1. oke, aku suka topiknya, tentang ke Esaan dan keKeberadaan (ghaib) Nya. secara ilmu, aku suka GusDur, mungkin bagi mereka yg kurang memahaminya dia dianggap nyeleh tp inilah suatu kedalaman. iman, agama, islam sangat beda, bahkan di titik yg saling berpencar. masing-masing memiliki karakateristik yang beda tiap angelnya namun tetap memiliki benang merah yang sama. entah di mana salahnya, tp ketika seseorang yg tdk pernah brani beranjak dari dogma2 yg tlah mrk pahami mk tabir ttg “rahasia’ itu sendiri tak pernah terbuka. crita sprti ini sbenarnya tlah banyk diungkap oleh orang2 terdahulu, ada Hallaj, Rumi, Syeh Djenar (indonesia), bahkan dlm buku “sejarah tuhan” Karen Amstrong pernah memanuskripkan perjalanan panjangnya ttg berbagai paham, ajaran, agama termasuk pencarian orang2 ttg tuhan & kebenaran…semakin mendekati analogi semakin jauh dari titiknya. agak riskan mendekati dan memahami risalah ini, kecuali bg mrk yg paham ttg esensiNya. Sy sndiri nyaris limbung, bruntug ada seorang sahabat yg memberikan ‘sesuatu’ untuk tdk sy pikirkan namun dpt sy ‘rasakan’ keberadaanNya. hingga sy mensyukuri, tdk rumit dan njelimet…asal tulus saja…..

  2. Terima kasih telah mampir, saudaraku…
    Karen Amstrong…aku sudah baca kedua buku nya :) . “Sejarah Tuhan” dan “Berperang Demi Tuhan” meski buku terakhir yang lebih memiliki bekas untukku :)

    Perjalanan sebuah pencarian memang luar biasa bukan…

    Nice to know u, bro

  3. Tiba-tiba saja saya jadi ingat sebuah pesantren di Jawa Timur, yang dinyatakan sesat oleh MUI gara-gara dalam salah satu kitab pegangannya mengatakan bahwa masih ada Rasul setelah Nabi Muhammad. Secara aqidah, diluar kepalapun saya sudah bisa menyimpulkan bahwa ada yang “tidak beres” dengan ajaran mereka (mohon maaf..saya lebih suka menggunakan kata “tidak beres” dibandingkan “sesat” karena keterbatasan ilmu saya dan juga saya merasa bahwa penghakiman seperti itu adalah wilayah prerogatif Sang Kholik, bukan makhluk seperti saya). Berarti ada yang “tidak beres “ pada syahadat mereka. Hanya saja, sama seperti kasus Crisis Center nya Tod Noff, pesantren itu pun dipenuhi berpuluh-puluh pemakai (dan mantan pemakai) yang seadng berusaha sembuh dari jeratan narkoba. Ironis. Sangat Ironis. Kesadaran akan masalah sosial dan kesadaran memberikan kontribusi penyelesaian justru terlahir dari sekelompok orang yang berlabelkan “sesat”?

    Ada juga pesantren yang dipimpin seorang Kiyai mantan preman, yang sholat dengan cara yang tidak lazim yaitu dengan mentrejemahkan doa-doa dalam sholat dalam bahasa Indonesia. Tapi anehnya, justru gara-gara hal yang tidak lazim preman-preman yang sepanjang hidupnya tak pernah melakoni ritual wajib umat Islam itu, dengan kesadaran penuh melakukan sholat. Tanpa ajakan, tanpa paksaan…hanya kesadaran akan kewajiban seorang hamba kepada Tuhan nya. Aneh memang. Tapi saya sekali lagi bukan bermaksud untuk menganulir keberadaan pesantren-pesantren “lurus” yang mampu mengajak jamaahnya kedalam rengkuhan Ilahi, tanpa Godly Confusion.

    Rasanya tidak pas membandingkan kesesatan dan output yang dihasilkan dengan memperhitungkan ‘kesuksesan’ oleh pesantren2 ‘tidak beres’ itu. jika demikian banyak juga kok yang bisa melakukannya tanpa lewat pesantren.

    Tetapi tetap saja saya tidak bisa menampik bahwa teologia mapan tadi tetap saja belum bisa menyentuh realitas sosial masyarakat. Mereka sebagian besar masih hadir secara normatif yang untouchabel. Yang hanya hadir diantara masjid dan surau, tak pernah keluar memasuki ruang-ruang kegetiran hidup pemeluknya. Nilai-nilai normatif yang hanya menjadi sesuatu yang memenuhi batin mereka tetapi tidak bisa lahir untuk menyelesaikan masalah kemiskinan, kelaparan dan kebodohan mereka.

    Pertanyaan yang sama yang sering terlintas dipikiran saya. Sebenarnya kita semua, umat Islam, sedang berusaha melakukan hal itu [menyelesaikan kemiskinan]. Mengaplikasikannya dalam lingkungan kita masing-masing bukan?

  4. Rasanya tidak pas membandingkan kesesatan dan output yang dihasilkan dengan memperhitungkan ‘kesuksesan’ oleh pesantren2 ‘tidak beres’ itu. jika demikian banyak juga kok yang bisa melakukannya tanpa lewat pesantren.

    “Memang benar mas. Banyak kok yang menemukan pencerahan tidak di pesantren. Tapi dalam konteks ini, saya hanya berusaha melogika (minimal utk saya yg terbatas ilmunya) kenapa pesantren2 dengan label negatif tersebut juga bisa menghasilkan output “pencerahan” juga…nah apa penyebabnya itulah yang jadi tanda tanya saya”

    Pertanyaan yang sama yang sering terlintas dipikiran saya. Sebenarnya kita semua, umat Islam, sedang berusaha melakukan hal itu [menyelesaikan kemiskinan]. Mengaplikasikannya dalam lingkungan kita masing-masing bukan?

    “Sepakat. Semoga setiap muslim di dunia ini punya cara berfikir seperti mas jookut yang luar biasa…mengaplikasikan semua nilai2 normatif dan religi dalam lingkungan masing-masing.

    Terima kasih atas kedatangnnya mas…jangan sungkan mampir lagi :)

  5. “ketika agama tidak lagi fungsional untuk masalah kemanusiaan”.

    itu yang saya simpulkan dari renungan bu yenni. renungan yang juga sekaligus sebagai keprihatinan.
    mungkin juga udah sampai pada tahap “geregetan”.

    sederet pertanyaan, bahkan mungkin hujatan, akan bermunculan ketika melihat kehadiran agama di tengah masalah kemanusiaan, seperti kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, konflik, peperangan, ketertindasan, dsb. dst.

    1. buat apa beragama jika hanya mengundang konflik, bahkan perang, di kalangan intern dan antar agama?
    2. buat apa beragama jika tidak berdaya mengatasi masalah kemanusiaan? tidak mampu menggerakkan para pemeluk dan pemukanya.

    sederet pertanyaan lain bisa kita tambahkan dari kondisi ketimpangan pesan ajaran dan kenyataan di lapangan.

    anda bisa berkilah: yang salah adalah pemeluknya, bukan ajarannya. ajaran agama baik dan suci.

    ya, tapi ajaran yang diimani baik dan suci itu ternyata tidak berdaya. tidak membumi, tidak fungsional. hanya indah dalam khotbah atau ceramah dan dalam lembaran tulisan para pemukanya.

    jhon lenon pun menyindir dalam alunan lagu “imagine”. bayangkan indahnya kehidupan jika tanpa negara dan juga tanpa agama.

    lenin pun teriak, agama hanya candu. yang meninabobokan kaum proletar untuk bermimpi tentang sorga di hari nanti. padahal para kapitalis menikmati sorga dunia. disini dan kini.

    dalam sejarah kita saksikan ketika syarikat islam (si) terpecah antara “si merah” dan “si putih”. ternyata banyak kalangan islam yang ikut barisan “si merah”. diantara analisa tentang ini, karena “si merah” lebih bisa menawarkan konsep idoelogi (komunis) yang lebih konngkrit dan membumi. sadar akan hal ini, sampai sampai tokoh si putih pun (tjokroaminoto) menulis buku tentang sosialisme islam. buku yang berupaya untuk mengimbangi idoelogi komunis saat itu yang ternyata laku dipasaran ide yang terbuka sebagai pilihan.

    jangan heran jika “kelompok sempalan” semacam mosadek, islam jama’ah, lia aminuddin dan sebagainya bisa laku di kalangan masyarakat islam sendiri. menarik untuk menyimak salah satu analisa terhadap fenomena ini, yaitu karena di kelompok semacam ini mereka merasa nyaman. solid dalam suasana persaudaraan dan lebih menjanjikan untuk keselamatan serta kelangsungan hidupnya. mereka seakan menemukan oase di tengah kehidupan yang invidualis, kompetitif, impersonal, kering, dan tidak lagi punya rasa solidaritas sosial. kita bisa merasakannya kalau tengah berkendaraan di jalanan.

    mereka tidak lagi menemukannya di antara jamaah mesjid, mushala, majlis ta’lim, atau pengajian zikir. Hal ini sempat disindir almarhum kuntowijoyo, kalau mesjid sering kali telah menjadi semacam terminal/pasar. tempat lalu lalang orang yang tidak lagi saling mengenal.

    dalam konteks inilah, saya kira kita diingatkan dengan haist nabi: bahwa kefakiran mendekatkan pada kekafiran. fakir materi, fakir ilmu, fakir tokoh panutan, fakir rasa aman, fakir rasa nyaman. (Quran, surat Quraisy: alladzi ath’amahum min ju’in wa amanahum min khauf).

    belum lagi kalau kita cerita tentang korupsi dan gaya hidup para petinggi pemuka agama atau partai yang mengusung nama islam. sangat ironis. jauh panggang dari api.

    hehehe kok saya jadi bersemangat begini. jangan2 panjangnya melebihi posting bu yenni.

    saya kira semua itu menjadi pr dan bahan introspeksi bagi kita, yang mengaku beragama. agama apapun.

    tak cukup beragama hanya dengan kesalehan individual, tapi harus diimbangi dan punya dampak pada pengembangan kesalehan sosial. bertaburan ayat al-quran dan hadis yang mewajibkan untuk menyantuni dan berbuat baik bagi sesama. dan Rasulullah menegaskan untuk mulai dari diri sendiri (ibda binafsik) tak perlu menunggu komando atau menunggu rombongan beramai ramai untuk berbuat sesuatu bagi perbaikan lingkungan kehidupan di sekitar kita.

    seorang cendekiawan muslim pernah bilang (kalau tidak slah kang jalal), dalam islam tidak perlu menyusun konsep telogi pembebasan seperti bergaung di amerika latin (dan sekarang mulai menggeliat dengan model sosialismenya). dalam islam sudah jelas dan gamblang tentang perintah untuk beramal shalih (amal kemanusiaan) yang selalu digandengkan dengan keimanan. (lihat surat al-’ashr, atau surat al-ma’un, surat favoritnya k.h. ahmad dahlan, pendiri muhammadiyah).

    renungan ibu yenni mengusik kita untuk menengok keberagamaan kita. ajakan untuk membumikan ajaran agama yang kita anut bagi amal usaha yang konkrit bagi kemanusiaan. sekecil apapun dan sesederhana apapun, sesuai kemampuan kita.
    —————–

    bu yenni maaf kepanjangan. juga mohon maklum jika ngelantur atau salah tafsir, atau keluar konteks dari tulisan bu yenni yang mengusik saya untuk ngasih comment.

    terima kasih sudah nengok blog-blogan saya, pendatang baru yang masih seadanya.

    saya juga sempat nengok web bu yenni “riset VALID Consulting”. dunia kalangan akademik yang asketik, jauh dari hingar bingar semacam lembaga survey atau quick count penyokong caleg, partai, pilkada dsb. hehe saya kecele, dikira lembaga bu yenni lembaga semacam itu, yang gemerlap dan lagi ngetrend.

    wassalam

  6. apa kabar bu yenni?

    comment saya di atas, saya poles sedikit, lalu saya posting di blog-blogan saya.
    hehehe lumayan, bisa nambah keren dikit.
    ada tulisan baru yang lahir karena “provokasi” tulisan bu yenni dan tulisan senada dari bu anis di islam indie.

    dari siltaruhami semacam ini, sy mulai merasakan asyiknya bermain blog.
    juga mudah2an bermakna, minimal untuk saling “provokasi”.

    wassalam.

  7. waalaikumsalam…mas rozan:)

    Alhamdulillah kabar baik.
    Terima kasih atas coment nya yang luar biasa. Sebuah kehormatan buat saya menerima comment dari Mas Rozan…opini dan sebuah renungan yang lagi-lagi (searusnya) membuat kita…sebagai muslim…harus segera terbangun dengan realitas ini.

    He he..sudah mulai suka main blog ya :)
    Satu hal yang saya suka dari aktivitas blogger adalah…bagaimana saya bisa mendapat banyak hal untuk saya pelajari dan akan bermanfaat buat saya. Termasuk dari mas Rozan :)

    Insya Allah tulisan Anda sangat bermakna…dan saya pengen lihat tulisan hasil “provokasi” he he

    Salam

  8. “3 rahasia Tuhan” itu berdasarkan tulisan Bisri Effendi yang beredar tahun 1999-an, menjelang pemilu pertama paska kejatuhan Soharto. Dan nampaknya penjelan itu sudah saya tulis di paragraph kedua, bro Mahendra :)

    Lagipula…anekdot yang selama ini beredar di kalangan masyarakat yang saya tahu juga memang 3 itu. Bukan menganulir “segala kerahasiaan Tuhan”, ada sebuah penekanan dalam tiga rahasia Tuhan tersebut. Sebagao bentuk renungan terbesar masyarakat, bahwa apapun yang mau kita lakukan…upaya sekuat apapun yang dilakukan…jika pada tiga hal tersebut Tuhan berkehendak lain maka lainlah realitas yang terjadi.

  9. coba ibu yenni lihat materi di atau link di web berikut :
    http://muslimah.or.id
    atau di :
    http://muslim. or.id
    atau bisa dengar kajian live di http://radiomuslim.com
    bagus2 materinya

    Yenni says:
    Terima kasih atas informasinya, bro Zahab.
    Segera ke TKP :)

  10. setahu saya yang kita tidak tahu adalah perkara yang ghoib adapun perkara yang nampak maka diketahui oleh manusia.
    adapun sebagian perkara diketahui oleh sebagian orang dan sebagian lainnya tidak maka itu adalah ghoib nisbi.
    nah untuk ghoib hakiki, tidak ada yang mengetahui kecuali Allah saja seperti masalah hujan, atau apa yang didalam rahim( tentang laki2/atau perempauan, apakah rizkinya banyak/sedikit, apakah dia masuk kedalam surga atau masuk kedalam neraka) yang detail seperti ini hanya Allah yang tahu. karena manusia zaman sekarang merasa agak aneh tenatang hal ini., sebagian mereka mengatakan tentang ayat atau hadits yang membicarakan bahwa yang tahu apa yang ada didalam rahim hanya Allah saja tapi khan sekarang dengan ilmu pengetahuan kita tahu apa yang ada didalam rahim misal dengan bantuan alat, tetapi para ulama kaum muslimin menjelaskan bahwa ayat atau hadits yang berbicara tentang yang ghoib itu benar adanya dan sekaligus tidak bertentangan dengan pengetahuan modern. mereka menjelaskan bahwa yang diketahui oleh para dokter adalah setelah terjadi manusia atau embrio bukan sebelumnya, dan selain itu mereka tidak tahu tentang peniupan ruh ketika di rahim saorang ibu, mereka juga tidak tahu tentang catatan amal mereka nantinya, rizkinya, maut bahagia/ sengsara. demikian mungkin masalah yang ghoib yang lain intinya disana ada permasalahan yang nampak dan ada yang ghoib, yang hanya diketahui oleh Allah saja.

  11. Saya sepakat dengan tulisan Anda, bro Zahab. Karena hal ghoib itu memang menjadi rahasia Allah.

    Tetapi, jawaban Anda belum bisa menjawab pertanyaan saya. Pada ranah ini, saya tidak sedang mengingkari bahwa Islam memiliki semua jawaban permasalahan hidup manusia. Tentu saja tidak! Saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa Islam adalah satu-satunya solusi atas permasalahan hidup manusia.

    Tetapi pertanyaan saya, mengapa Islam sebagai sebuah agama yang mapan yang memiliki semua jawaban itu, belum mampu menyentuh realitas umatnya. Seperti ada sebuah jarak antara keduanya. Sehingga sang umat, justru mencari penjawaban yang jauh dari agama yang dia peluk. Seperti muslim yang justru lari ke Ki Joko Bodo ketika putus cinta, atau seorang haji yang masih saja membakar kemenyan setiap selasa kliwon.

    Kesalahan bukan terletak pada ajarannya…tetapi pada manusia nya…dan saya sedang menjari jawaban dari sisi manusia yang manakah yang membuat semua ajaran mapan itu mental dari pemeluknya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.