Kejanggalan Teror Mumbai

           Saya tak akan bertutur tentang brutalnya teror mumbai yang mengakibatkan 195 nyawa tercabut dan 200 an orang terluka dalam insiden akhir November itu. Karena saya yakin, pada titik ini, Anda dan saya ada dalam posisi yang sama untuk mengutuk aksi itu (meskipun kadang kutukan seorang manusia tidak memberikan dampak apapun).

Tetapi bukan itu yang mengusik pikiran saya sekarang. Pernyataan pemerintah India, beberapa saat setelah insiden itu, yang membuat saya spontan bertanya-tanya, darimana pemerintah India demikian yakin bahwa teror itu benar-benar didalangi oleh kelompok muslim militan dari jaringan Al-Qaeda? Darimana pemerintah India dalam hitungan jam bisa menuding kelompok muslim sebagai otak dibelakang insiden itu. Seakan setiap teror di bumi ini telah menjadi hak paten kaum muslim, semua berlomba cepat untuk mengangkat telunjuk dan mengarahkan pada militan muslim untuk setiap bom yang meledak di manapun. Pernyataan Intelijen Rusia pada kantor berita RIA Novosti, dengan sigap dan cepat berkata bahwa serangan di Mumbai terkait dengan jaringan terorisme Al-Qaeda.

“Salah satunya kelompok Lashkar-i-Tayyiba, yang dilatih khusus di kamp di perbatasan Pakistan – India”, kata sumber Rusia itu.

 

Dalam kondisi genting seperti itu, sebuah pembelaan diri memang tidak ada gunanya. Sama halnya pembelaan diri oleh Al-Qaeda dan Lashkar – i – Tayyiba yang menolak keras tuduhan bahwa mereka adalah dalang teror di Mumbai.  Okelah, kita anggap pembelaan diri itu seperti menyetujui pepatah “Mana ada maling ngaku maling…”. Sekarang kita lihat masalah ini dari sudut yang berbeda.

Ketika pemerintah India langsung meyakini bahwa Deccan Mujahidin adalah pihak yang bertanggungjawab atas aksi tersebut hanya berdasarakan sebuat statemen singkat salah seorang pelaku teror di TV India, saya jadi teringat ketika suatu hari ada seseorang yang menyapa saya dalam chatt room. Ketika saya bertanya tentang identitasnya dia berkata “Hai…aku Andrea Hirata. Itu loh…Andrea si penulis tetralogi Maryam Karpov”. Jika saya sama bodohnya dengan pemerintah India, maka saya akan berkata “Wah…boleh minta tanda tangannya dong! Aku penggemar karyamu, lho!” Bagaimana mungkin saya akan percaya begitu saja bahwa dia memang Andrea Hirata hanya dari sebuah pengakuan di dunia maya tanpa saya mencari tahu dulu siapa dia sebenarnya. Untungnya saya segera menjawab “Hai juga…kenalkan…aku Agatha Christie!”

Pemerintah India dengan mudahnya percaya bahwa mereka benara-benar si Decca Mujahidin dari dataran di selatan India, yang dilatih khusus di kamp di perbatasan Pakistan – India. Pemerintah India tetap saja menafikkan sejumlah analis seperti yang dilansir dalam harian The Internasional Herald Tribune edisi Kamis (27/11/08) yang melaporkan, ahli-ahli terorisme global mengaku tak pernah mendengar kelompok dengan nama Deccan Mujahiddin. Berdasarkan taktik serangan yang dipakai, kelompok itu juga kemungkinan besar tidak ada hubungannya dengan Al-Qaeda. Senada dengan hal itu, Bruce Hoffman, pakar di School of Foreign Service di Georgetown University yang menulis Inside Terrorism menyatakan “Bahkan, kelompok itu belum tentu ada”. 

Christine Fair, pengamat ilmu politik dan Asia Selatan di RAND Corporation yakin bahwa target dan gaya serangan di Mumbai bukanlah gaya Al-Qaeda. “Tidak ada pelaku bom bunuh diri kan?” Variabel bom bunuh diri yang nampaknya diabaikan begitu saja oleh pemerintah India. Al-Qaeda dan kelompok jaringannya memaknai sebuah aksi bom bunuh diri sebagai bagian tak terpisahkan dalam aksinya. Mati dalam aksi bom bunuh diri adalah syahid, daripada tertangkap hidup-hidup dan terpaksa membongkar jaringan kawanan mereka. Bom bunuh diri adalah sebuah keniscayaan yang sakral, karena ini adalah bagian dari identitas mereka.

Financial Times edisi Asia menyebutkan bahwa salah seorang pelaku teror yang menyerang Mumbai tertangkap kamera terlihat mengenakan sebuah gelang benang suci Hindu. Pernyataan ini paling tidak mendukung pembelaan diri dari kelompok Lashkar – i – Tayyiba yang menuduh kelompok militan Hindu sengaja menyebar teror kepada muslim.

Fakta yang dinafikkan tersebut menggambarkan bahwa pemerintah India seakan lupa tentang sejarah kelam negeri Hindustan yang memiliki konflik Hindu – Islam yang sudah ada sejak India lahir sebagai sebuah negara.  Dimana kedua kelompok, baik muslim maupun Hindu, dalam waktu yang demikian panjang telah menggoreskan catatan berdarah dalam kehidupan India. Jika pun harus dicari kambing hitamnya, mengapa tuduhan hanya dialamatkan kepada kelompok muslim? Bukankah Abhinav Bharat dan kelompok militan hindu lainnya juga sama-sama berulangkali menebarkan teror di India? Dan teror ini bukanlah kali pertama terjadi di India. Tercatat pada tahun 2008 ini saja, telah terjadi 5 kali aksi teror yang menewaskan setidaknya 285 orang dan melukai 756 orang. Lalu mengapa pemerintah India bereaksi seakan ini adalah bom pertama yang terjadi di negerinya?

Pemerintah India seharusnya tidak bergegas menuduh kekuatan asing sebagai pihak yang bertanggungjawab atas serangan di Mumbai.  Banyak pihak menyalahkan kesimpulan prematur pemerintah India ini sebagai bentuk upaya memimndahkan beban tanggung jawab ke pundak negara lain. Hindustan Times, Times of India dan Mail Today, hanya sebagian media India yang justru menyalahkan kelemahan dan kebodohan intelijen India yang tidak sanggup mengantisipasi keamanaan India. “Mengingat posisi Mumbai yang sangat terbuka di pesisir Laut Arab dan sebagai pusat finansial serta industri film India, seharusnya intelijen India mampu mengantisipasi kemungkinan serangan teror dari luar.” Rakyat India dalam media-media lokal, juga menyalahkan pemerintah India sebagai biang kerok terjadinya aksi teror ini. “Para politisi itu hanya sibuk dengan memanfaatkan slogan anti terorisme untuk kepentingannya sendiri. Hasilnya…India jadi sasaran teroris!”  Wall Street Journal juga mempersalahkan para pemimpin India karena membuat negara itu menjadi “sebuah sasaran teroris yang mudah”. “Insiden ini hanya sebuah akibat atas ketimpangan kebijakan dan perlakuan pada kelompok tertentu di India”, ujar Hindustan Times. “Yang penting saat ini pemerintah India tidak bereaksi berlebihan dengan mencari kambing hitam dan sibuk menyalahkan pihak lain. Hasrat untuk bertindak keras tanpa pandang bulu harus dilawan” sebut harian Financial Times.

 

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan tindakan terorisme, apalagi mendukung tindakan teror Al-Qaeda,  tetapi sekedar sebuah peringatan agar semua pihak dapat lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan yang justru akan kontraproduktif dengan slogan “anti terorisme”. Bagaimana mungkin melawan sebuah aksi kekerasan dengan cara kekerasan juga? Pernyataan yang provokatif, sepihak dan tidak dapat dipertanggungjawabkan justru akan menimbulkan korban baru dari pihak yang tak bersalah.

Saya jadi ingat kejadian pahit yang dialami Slank dalam tour promo di Amerika akhir November ini. Ridho, sang gitaris, sempat tidak mendapat visa ijin masuk AS gara-gara hanya karena memiliki nama lengkap Mohammad Ridwan Hafiedz! Meski visa akhirnya diberikan, kejadian ini menggambarkan bagaimana slogan anti terorisme telah menjadi alat legitimasi kekuasaan untuk bertindak diskriminatif terhadap label keyakinan seseorang.

 Jangan-jangan nanti muncul teroris teriak teroris…

 

 

***

 

Sumber:

Harian Kompas Indonesia

Reuters

 

 

11 Tanggapan

  1. Aku mencoba mencar tulisan mengenai iklan PKS yang memasukkan Soeharto sebagai Guru Bangsa itu. Tak ada. Kamu tak menulisnya? Atau tak tertarik mengajak orang lain untuk mendiskusikannya?

    Aku berdebat hebat mengenai hal ini dengan istriku. Aku katakan, aku tak bisa menerimanya. Tapi teman-temanku, salain istriku, masih bersikukuh pada argumen yang dibangun oleh partai itu.

    Dasarnya aku ma mereka emang beda pandangan soal politik, ya sudahlah. Tetap satu dalam ukhuwah, tapi tidak dalam partai “dakwah” itu. :)

    Bagaimana pendapatmu Saudariku, Yenni?

  2. Subhanallah…saudaraku yang hilang :) . Bagimana kabarmu? Terima kasih sudah mampir ya. Nampaknya dirimu adalah orang kesekian kalinya yang salah mengindentifikasikan diriku sekarang he he. It’s ok.

    Tentang “Guru Bangsa” itu ha ha….jika hasil diskusi kami dituliskan di sini…habislah kapasitas blog ku ini untuk menumpahkan sejuta pendapat atasnya. Sayangnya, aku dan suami (kau pasti kenal suamiku :) ) termasuk barisan antipati atas itu. Tak hanya kami berdua, masih banyak teman-teman kita dulu (jika dikau masih menyebut mereka teman lho) yang merasa bahwa gelar itu adalah penghinaan atas apa yang mereka perjuangkan seama ini…

    Karena semua diskusi itu belum ada akhirnya…nampaknya tak adil jika aku hanya menuliskan pendapatku saja.
    Anyway…aku sangat terbuka menerima hasil diskusimu dalam blog ku…sebuah kehormatan untukku.

    Oya, aku link blog mu ya…di http://yennioctarina.blogspot.com

  3. Saya tertarik dengan kalimat ini,

    Financial Times edisi Asia menyebutkan bahwa salah seorang pelaku teror yang menyerang Mumbai tertangkap kamera terlihat mengenakan sebuah gelang benang suci Hindu.

    Kenapa harus diekspos dan dibahas si bu?? :roll:

    Kan makin jadi nggak seru tuh. :lol:

    Biar aja itu tertutupi, terus kita bisa nyalahin “POKOKNYA ISLAM ITU TERORIS!! NGGAK ADA YANG LAIN”.

    Masih untung kan kalau yang ngomong itu cuma orang yang bukan islam, coba kalo sampai orang yang katanya beragama Islam tersebut juga ngomong “HEHEHE…. EMANG DAH AGAMA GUA YAITU ISLAM, BENER-BENER TERORIS” :mrgreen:

    Fiiiiiiiiiiuuh….. semoga Allah membuka mata hati kita dan menunjukkan yang benar adalah benar dan membimbing kita untuk meniti jalan kebenaran tersebut dan yang salah adalah salah sehingga kita tidak tersesat mengikuti jalan yang salah tersebut. Ya Allah lembutkanlah hati kami untuk selalu berhusnuzhan terhadap saudara-saudara kami yang bertauhid kepada-Mu. Amin.

    Thanks articlenya ya mba Yeni, sungguh mencerahkan dan bermanfaat.

    To Bp. Herman,
    Saya jadi bingung ya… :roll: Hehehe.. Kok kayanya nggak nyambung dech dengan articlenya… :roll: Saya yang salah kan ya… :roll:

    Tapi sedikit tanggapan saya, kalau saya jadi Suharto pasti saya sangat berharap orang membicarakan kebaikan saya sama juga seperti saya yang tidak ingin dibicarakan kejelekan saya oleh orang lain.

    Bukankah wajar ketika kita sangat berharap orang mau memaafkan kesalahan dan kekhilafan kita, apalagi saat kita sudah mati. Maaf loch, ini membicarakan diri kita bukan orang lain.

    Mudah-mudahan pemutarbalikan paradigma tersebut bisa membuat kita bisa lebih arif dalam menyikapi sesuatu.

    To mba Yenni, I like your blog… :oops: Lebay nggak ya… :mrgreen: hihihihi…. :lol:

  4. He he….cool comment, bro :D Ya…sekali-kali kita yang Islam ini berkata sedikit anarkis, jangan protagonis terus…walhasil malah jadi bahan injek-injekan “mereka”. Haiyah….ngomong apaan sih :D

    Anyway, thanks alot lho bro Muis atas comment and visit nya. I love ur blog 2….sampai2 aku cukup terkecoh dengan predikat salafy nya he he. Inspiratif lah buatku.

    Nice to know u, bro :)

  5. Bung Muis,

    Betul kata Anda, komentara saya memang tidak nyambung dengan artikel Yenni. Tapi begitulah, di sini tak ada tempat untuk mendiskusikannya. Memang tidak ada tulisan mengenai “guru bangsa” itu, dan saya sengaja memberi pengantarnya pada paragraf pertama komentar saya.

    Dalam politik Jawa yang dulu sempat saya pelajari, filosofi “mikul dhuwur mendem jero” adalah alat yang ampuh untuk semacam “impunity” bagi orang macam “bapak pembangunan” ini. Saya menolak impunity bagi Soeharto. Tragedi pembantaian orang-orang tak berdosa dan tak tahu menahu soal peristiwa ’65, juga korban Talangsari, Tanjung Priok, Kedung Ombo, bahkan kemiskinan yang luar biasa banyaknya sekarang ini adalah ulah daripada Soeharto.

    Setelah keluar dari penjara, Nelson Mandela pernah berkata, “kita maafkan mereka, tetapi jangan lupakan kesalahannya”. Kekejaman politik apartheid adalah sejarah kelam kemanusiaan. Harus selalu jadi pelajaran. Demikian pula dengan Soeharto, adalah sejarah muram Indonesia, tidak untuk menjadikannya sebagai “guru bangsa”.

    Blog antum menarik sekali tuh bung Muis. Selamat berjuang ya.

  6. Menerima undangan mba Yeni atas tanggapan mas Herman, hehehe… mudah-mudahan ini nggak bikin kita perang gara-gara sedikit beda pendapat [dikit aja ya om :lol: ].

    Saya setuju dengan mas, banyak kasus-kasus yang sungguh menyakitkan khususnya bagi umat Islam terjadi semasa pemerintahan beliau. Terkhusus Tanjung Priok, kalau saya denger cerita ayah saya, ggrrrrr… :evil: bener-bener bikin saya marah dan dada saya terasa sesak saking keselnya.

    Tapi apakah musti terus dipiara kebencian kita tersebut? :roll:

    Oiya… saya mo cerita dikit mengenai orang penting dari partai penyebab polemik soeharto ini, Mas tau kalau beliau [ketua masjelis syuro] itu pernah dipenjara, dan menurut cerita, orang tuanya itu mati juga karena diracun dan terus dijagain intel sampe bener-bener yakin kalau tuh bapak mati [hehehe... kaya kucing aja ya mati? :lol: ]

    Maksudnya gini, beliau aja yang bener-bener merasakan secara langsung penderitaan akibat kekejaman suharto mau memaafkan beliau. Nah kita, yang nggak pernah secara langsung disakiti knapE marahnyE ampE melebihi beliau coba? :lol: hehehe… saya masih dingin nih mas.. :lol: sumpah kagak marah lahir bathin dah! Suwer! :lol:

    Nah, kalau mengenai guru bangsa, saya pikir siapapun bisa menjadi teladan kan untuk menjadi guru bangsa. Mas Herman juga bisa kok jadi guru bangsa, dan saya juga mau dong jadi guru bangsa, cuma masalahnya emang semua orang seindonesia kenal sama kita ya pak? hehehe… jadi paling-paling cuma sebagai guru di rumah doang atau paling banter jadi guru lingkungan.

    Saya justru melihat apa yang diangkat parpol kontroversi tersebut adalah hanya untuk mengajak kita “Yo bebenah, lihat masa depan dan jadikan masa lalu sebagai pelajaran, jangan terus-terusan liat kesedihan, luka dan dendam terus, kita nggak akan bisa maju loch”. Kayanya tu orang yang bikin iklan sering banget ikut training NLP kali ya, abis pikirannya positif terus sich.

    Tapi kalau mau lihat sejarah muram Indonesia, hmmm…. saya melihat semua orang yang ada di iklan itu, even orang yang paling mas kagumi juga punya sejarah muram kok *sok tau banget ya saya :lol: :oops: ] coba aja dech cek sejarah mereka, semuanya nggak pernah luput dari kesalahan kan soalnya manusia sempurna itu ya cuma Rasulullah, nggak ada lagi orang lain. Tapi saya nggak mau ngomongin kejelekan atau kesalahan mereka. kasian mas, selain takut kualat mereka itu udah pada gugur mungkin mereka juga lagi sibuk ngurusi alam barzah mereka kali… :lol:

    Nah loch, kalau akhirnya semuanya tak luput dari sejarah muram Indonesia, kan mendingan semuanya nggak usah dijadikan guru bangsa toch. Biar adil… Jadi pendukung suharto nggak sewot, terus pendukung sukarno juga nggak sewot, terus pendukung ahmad dahlan, hasyim asyhari juga nggak sewot. Kan enak tuh Indonesia, adem, tenang, nyaman.

    Btw, saya bicara gini bukan karena saya antek suharto loch… astaghfirullah… saya cuma pengen kita melihat segala sesuatunya secara lengkap, baik dari sisi kita sebagai orang luar dan dari sisi suharto sebagai pihak yang menjadi objeck pembicaraan.

    Oiiya pak, saya punya article menarik nih untuk dijadikan tambahan pemikiran kita. Yang punya blog bukan juga antek suharto juga bukan antek parpol kontroversi tersebut. Dari tadi kok ngomongnya antek-antek mulu kayanya sadis banget ghitu. Ya mudah-mudahan bisa menjadi bahan renungan aja. Ni mas articlenya http://abisyakir.wordpress.com/2008/11/03/menghargai-jasa-seorang-muslim/

    Jangan marah ya… :D Peace…. Cool…. :lol: I love you… :D Muah… *lebay banget ya? :roll: kabuur*

  7. Terima kasih karena telah mau menerima undangan saya, bro Muis :)

    He he nggak lah kalo perang, saya tahu banget tingkat kedewasaan seorang Herman dalam berbeda pendapat…don’t worry, bro Muis.

    Tentang Alm. Ust. Rahmad Abdullah, semoga Allah senantiasa merahmati beliau, saya sangat yakin dengan kearifan beliau yang luar biasa, beliau pasti memaafkan seorang Soeharto yg telah membunuh orangtuanya. Saya yakin itu…dengan segala kemuliaan akhlaq seorang Rahmat Abdullah, beliau pasti telah memaafkan.

    Tetapi memaafkan bukan berarti memberi gelar guru bangsa, bukan? Untuk pemberian gelar ini, saya tidak merasa yakin bahwa beliau setuju. Dalam hal ini saya beranggapan, saudara-saudaraku di PKS menggunakan asumsi bahwa memaafkan berarti tak masalah dengan pemberian gelar itu.

    Inilah yang menjadi sedikit (banyak ding he he) ganjalan buat saya. Memaafkan bukan berarti mensyahkan memberikan sebuah gelar “Guru Bangsa”. Memaafkan berarti bahwa kita telah memaafkan seorang Soeharto sebagai seorang manusia, tetapi tidak membenarkan apa yang telah dia lakukan (tanpa menafikkan kontribusi positif Soeharto atas negeri ini).

    Seorang Guru adalah seorang yang dipanuti…yang di “gugu” dan “ditiru”. Yang di dengar apa yang dikatakannya dan ditiru apa yang dilakukannya. Ketika kita menyematkan gelar “Guru Bangsa” kepada Soeharto…apakah kemudian kita akan mendengar semua perkataan suharto dan meniru apa yang telah dilakukannya??

    He he….piss loh bro Muis…no heart feelling ya :) Saudara-saudaraku di PKS juga piss loh…
    U know me, lah he he.

    Syukron katsiir bro Muis, jangan kabur dong!

  8. Memaafkan dan gelar Guru Bangsa itu ga ada hubungannya. Krn Soeharto sudah mati, maka kita boleh memaafkan.tapi ga ada relasinya dg menjadikan guru bangsa. dan salah satu perkara bukan penyebab otomatis dari perkara yang lain. ga ada silogismenya.

    Tapi kayaknya PKS punya agenda politiktertentu seiring PKS jadi partai terbuka, hal ini dapat dilihat dari Award-award lain yang diberikan PKS. jadi bukan hanya masalah Soeharto saja. Soeharto hanya salah satu dari itu, jadi jangan point of viewnya hnya pada pak Harto.

    Allah yang Maha Adil

  9. nyari-nyari postingan yang belum terjamah komen saya :mrgreen:

    Yenni says:
    Wkakaka…
    Pak heri…itu mah nyindir… :mrgreen:
    Bilang aja…”nih blog kok gak update2 sih? ”
    He he he

  10. Assalamu’alaikum, salam kenal….Subhanallah, tulisan yang selain memberikan pencerahan ide baru juga sangat inspiratif kawan, nice blog, keep on blogging!!! :-) artikel-artikel untuk menjadi muslim kaya juga bisa aku temukan di sini : http://muslim-kaya.blogspot.com/

    Yenni says:
    Waalaikumsalam wr wb
    Trima kasih atas kunjungannya…
    Semoga saya bisa segera menyusul menjadi muslim yang kaya :)

  11. guru berarti aja digugu lan aja di tiru

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.