(Perdebatan tentang gelar “Guru Bangsa” oleh PKS bagi seorang Soeharto ternyata menjadi sebuah bahan diskusi yang menarik bagi banyak kalangan, mengingat segala track record yang dibuatnya di masa kekuasaan 32 tahun. Pro kontra pun bermunculan. Tak terkecuali tuduhan “antek Soeharto” terhadap PKS yang dikenal sebagai partai yang kukuh memegang idealisme tentang moralitas. Ide untuk mengangkat tema ini muncul dari seorang sahabat lama yang menyapa di kedua blog saya. Jujur, lontaran itu mengingatkan pada respon pertama saya ketika melihat iklan itu tayang perdana di televisi. Jengkel, gemes dan tentu saja sebuah tanda tanya. Bahkan suami saya sempat mengirimkan sebuah sms sebagai bahan diskusi kepada salah seorang sahabatnya yang seorang anggota DPRD.
Posting kali ini bukan murni tulisan saya, tapi berasal dari comment dari sahabat-sahabat saya yang mendiskusikan topik ini di blog saya (http://yennioctarina.wordpress.com). Meski comment yang diberikan agak nggak nyambung karena di posting di artikel yang judulnya blas nggak ada hubungannya dengan Soeharto, tetapi saya merasa diskusi ini adalah sebuah bahan yang sangat sangat menarik. Sebagai bentuk apresiasi dan terima kasih atas kesediaan kedua sahabatku yang telah memberikan comment di blog saya, maka saya rangkum comment mereka dalam posting kali ini. Dan saya mengundang semua sahabat dan rekan-rekan yang lain untuk bergabung dalam diskusi ini….menjadi sebuah kehormatan bagi saya untuk menerima sebuah opini dari Anda tentang tema ini.
Diskusi ini selengkapnya bisa Anda lihat di: http://yennioctarina.wordpress.com/2008/12/02/kejanggalan-teror-mumbai/#comments
Untuk Herman…syukron katsiir,akhi!
HERMAN (http://serunai.blogspot.com/ )
Desember 3, 2008 at 10:02 am
Aku mencoba mencari tulisan mengenai iklan PKS yang memasukkan Soeharto sebagai Guru Bangsa itu. Tak ada. Kamu tak menulisnya? Atau tak tertarik mengajak orang lain untuk mendiskusikannya?
Aku berdebat hebat mengenai hal ini dengan istriku. Aku katakan, aku tak bisa menerimanya. Tapi teman-temanku, salain istriku, masih bersikukuh pada argumen yang dibangun oleh partai itu.
Dasarnya aku ma mereka emang beda pandangan soal politik, ya sudahlah. Tetap satu dalam ukhuwah, tapi tidak dalam partai “dakwah” itu J
Bagaimana pendapatmu Saudariku, Yenni?
YENNI (http://yennioctarina.blogspot.com)
Desember 3, 2008 at 11:17 am
Subhanallah…saudaraku yang hilang J Bagimana kabarmu? Terima kasih sudah mampir ya. Nampaknya dirimu adalah orang kesekian kalinya yang salah mengindentifikasikan diriku sekarang he he. It’s ok.
Tentang “Guru Bangsa” itu ha ha….jika hasil diskusi kami dituliskan di sini…habislah kapasitas blog ku ini untuk menumpahkan sejuta pendapat atasnya. Sayangnya, aku dan suami (kau pasti kenal suamiku J) termasuk barisan antipati atas itu. Tak hanya kami berdua, masih banyak teman-teman kita dulu (jika dikau masih menyebut mereka teman lho) yang merasa bahwa gelar itu adalah penghinaan atas apa yang mereka perjuangkan seama ini…
Karena semua diskusi itu belum ada akhirnya…nampaknya tak adil jika aku hanya menuliskan pendapatku saja.
Anyway…aku sangat terbuka menerima hasil diskusimu dalam blog ku…sebuah kehormatan untukku.
IBN ABD MUIS (http://ihwansalafy.wordpress.com)
Desember 5, 2008 at 8:28 am
…………………
To Bp. Herman,
Saya jadi bingung ya… Hehehe.. Kok kayanya nggak nyambung dech dengan articlenya… Saya yang salah kan ya…
Tapi sedikit tanggapan saya, kalau saya jadi Suharto pasti saya sangat berharap orang membicarakan kebaikan saya sama juga seperti saya yang tidak ingin dibicarakan kejelekan saya oleh orang lain.
Bukankah wajar ketika kita sangat berharap orang mau memaafkan kesalahan dan kekhilafan kita, apalagi saat kita sudah mati. Maaf loch, ini membicarakan diri kita bukan orang lain.
Mudah-mudahan pemutarbalikan paradigma tersebut bisa membuat kita bisa lebih arif dalam menyikapi sesuatu.
HERMAN (http://serunai.blogspot.com )
Desember 9, 2008 at 4:36 am
Bung Muis,
Betul kata Anda, komentar saya memang tidak nyambung dengan artikel Yenni. Tapi begitulah, di sini tak ada tempat untuk mendiskusikannya. Memang tidak ada tulisan mengenai “guru bangsa” itu, dan saya sengaja memberi pengantarnya pada paragraf pertama komentar saya.
Dalam politik Jawa yang dulu sempat saya pelajari, filosofi “mikul dhuwur mendem jero” adalah alat yang ampuh untuk semacam “impunity” bagi orang macam “bapak pembangunan” ini. Saya menolak impunity bagi Soeharto. Tragedi pembantaian orang-orang tak berdosa dan tak tahu menahu soal peristiwa ‘65, juga korban Talangsari, Tanjung Priok, Kedung Ombo, bahkan kemiskinan yang luar biasa banyaknya sekarang ini adalah ulah daripada Soeharto.
Setelah keluar dari penjara, Nelson Mandela pernah berkata, “kita maafkan mereka, tetapi jangan lupakan kesalahannya”. Kekejaman politik apartheid adalah sejarah kelam kemanusiaan. Harus selalu jadi pelajaran. Demikian pula dengan Soeharto, adalah sejarah muram Indonesia, tidak untuk menjadikannya sebagai “guru bangsa”.
Blog antum menarik sekali tuh bung Muis. Selamat berjuang ya.
IBN ABD MUIS (http://ihwansalafy.wordpress.com)
Desember 9, 2008 at 1:14 pm
Menerima undangan mba Yeni atas tanggapan mas Herman, hehehe… mudah-mudahan ini nggak bikin kita perang gara-gara sedikit beda pendapat [dikit aja ya om J].
Saya setuju dengan mas, banyak kasus-kasus yang sungguh menyakitkan khususnya bagi umat Islam terjadi semasa pemerintahan beliau. Terkhusus Tanjung Priok, kalau saya denger cerita ayah saya, ggrrrrr… bener-bener bikin saya marah dan dada saya terasa sesak saking keselnya.
Tapi apakah musti terus dipiara kebencian kita tersebut?
Oiya… saya mo cerita dikit mengenai orang penting dari partai penyebab polemik soeharto ini, Mas tau kalau beliau [ketua masjelis syuro] itu pernah dipenjara, dan menurut cerita, orang tuanya itu mati juga karena diracun dan terus dijagain intel sampe bener-bener yakin kalau tuh bapak mati [hehehe... kaya kucing aja ya mati?]
Maksudnya gini, beliau aja yang bener-bener merasakan secara langsung penderitaan akibat kekejaman suharto mau memaafkan beliau. Nah kita, yang nggak pernah secara langsung disakiti knapE marahnyE ampE melebihi beliau coba? hehehe… saya masih dingin nih mas.. Sumpah kagak marah lahir bathin dah! Suwer!
Nah, kalau mengenai guru bangsa, saya pikir siapapun bisa menjadi teladan kan untuk menjadi guru bangsa. Mas Herman juga bisa kok jadi guru bangsa, dan saya juga mau dong jadi guru bangsa, cuma masalahnya emang semua orang seindonesia kenal sama kita ya pak? hehehe… jadi paling-paling cuma sebagai guru di rumah doang atau paling banter jadi guru lingkungan.
Saya justru melihat apa yang diangkat parpol kontroversi tersebut adalah hanya untuk mengajak kita “Yo bebenah, lihat masa depan dan jadikan masa lalu sebagai pelajaran, jangan terus-terusan liat kesedihan, luka dan dendam terus, kita nggak akan bisa maju loch”. Kayanya tu orang yang bikin iklan sering banget ikut training NLP kali ya, abis pikirannya positif terus sich.
Tapi kalau mau lihat sejarah muram Indonesia, hmmm…. saya melihat semua orang yang ada di iklan itu, even orang yang paling mas kagumi juga punya sejarah muram kok *sok tau banget ya saya J] coba aja dech cek sejarah mereka, semuanya nggak pernah luput dari kesalahan kan soalnya manusia sempurna itu ya cuma Rasulullah, nggak ada lagi orang lain. Tapi saya nggak mau ngomongin kejelekan atau kesalahan mereka. kasian mas, selain takut kualat mereka itu udah pada gugur mungkin mereka juga lagi sibuk ngurusi alam barzah mereka kali…
Nah loch, kalau akhirnya semuanya tak luput dari sejarah muram Indonesia, kan mendingan semuanya nggak usah dijadikan guru bangsa toch. Biar adil… Jadi pendukung suharto nggak sewot, terus pendukung sukarno juga nggak sewot, terus pendukung ahmad dahlan, hasyim asyhari juga nggak sewot. Kan enak tuh Indonesia, adem, tenang, nyaman.
Btw, saya bicara gini bukan karena saya antek suharto loch… astaghfirullah… saya cuma pengen kita melihat segala sesuatunya secara lengkap, baik dari sisi kita sebagai orang luar dan dari sisi suharto sebagai pihak yang menjadi objeck pembicaraan.
Oiiya pak, saya punya article menarik nih untuk dijadikan tambahan pemikiran kita. Yang punya blog bukan juga antek suharto juga bukan antek parpol kontroversi tersebut. Dari tadi kok ngomongnya antek-antek mulu kayanya sadis banget ghitu. Ya mudah-mudahan bisa menjadi bahan renungan aja. Ni mas articlenya http://abisyakir.wordpress.com/2008/11/03/menghargai-jasa-seorang-muslim/
Jangan marah ya… Peace…. Cool…. I love you… Muah… *lebay banget ya? Kabuur
YENNI (http://yennioctarina.blogspot.com)
Desember 9, 2008 at 11:17 am
Terima kasih karena telah mau menerima undangan saya, bro Muis
He he nggak lah kalo perang, saya tahu banget tingkat kedewasaan seorang Herman dalam berbeda pendapat…don’t worry, bro Muis.
Tetapi memaafkan bukan berarti memberi gelar guru bangsa, bukan? Saya sepakat jik akita maafkan tetapi, meminjam istilah Herman, tidak melupakan. Dalam hal ini saya beranggapan, saudara-saudaraku di PKS menggunakan asumsi bahwa memaafkan adalah sama dengan memberi gelar itu.
Inilah yang menjadi sedikit (banyak ding he he) ganjalan buat saya. Memaafkan bukan berarti mensyahkan memberikan sebuah gelar “Guru Bangsa”. Memaafkan berarti bahwa kita telah memaafkan seorang Soeharto sebagai seorang manusia, tetapi tidak membenarkan apa yang telah dia lakukan (tanpa menafikkan kontribusi positif Soeharto atas negeri ini).
Seorang Guru adalah seorang yang dipanuti…yang di “gugu” dan “ditiru”. Yang di dengar apa yang dikatakannya dan ditiru apa yang dilakukannya. Ketika kita menyematkan gelar “Guru Bangsa” kepada Soeharto…apakah kemudian kita akan mendengar semua perkataan suharto dan meniru apa yang telah dilakukannya????
He he….piss loh bro Muis…no heart feelling ya
Saudara-saudaraku di PKS juga piss loh…
U know me, lah he he.
Syukron katsiir bro Muis…jangan kabur dong!
Filed under: Sosial, Politic and Humanity Ditandai: | Guru Bangsa, Iklan PKS, PKS, Politic, Soeharto






Pertamax dulu. Nanti dilanjut setelah mandi hehehe. Mba Yen! Pinjem tiker dunk buat duduk2 kita! Plus kalo ada tolong sediain pisang goreng ma kacang kulit ya. Kasiankan kalo nanti temen2 pada dateng gk disuguhin apa2
Btw, orang yg saya maksud bukan ust. Rahmat Abdullah rahimahullah loch!
dan…. Uupsh!
Udah dulu ya! Nanti saya lanjut lagi
*cium2 bau baju tidur yg dipake sambil ngeloyor ke kamar mandi 
*
He he…waduh para tamu minta pisang goreng. Gubrak! Ya udah mandi dulu…diskusinya lanjut nanti… Syukron
Ga ikutan ah, beneran ga ikutan!
Cuma mau cerita dikit:
Pada masa gila-gilaan di dunia hitam dulu(yg kebetulan zaman Soeharto), teman2ku banyak yg sengsara (bahkan ada yg mati dikarungin {ingat kasus petrus?}).
Pada masa ‘taubat’ di pesantren kemudian (yg juga zaman Soeharto), kami dibungkam melihat saudara2 kami dibantai di Tanjung Priok.
So, waktu “Guru Bangsa” tayang di TV… kessseeel…
Tapi, tabayyun, tabayyun (sambil ngusap2 dada…)
Kemudian kucari sahabatku yg PKS itu. Bahasa kerennya: klarifikasi. Lalu, sudut pandangnya berhasil merubah sudut pandangku. Hasil ngobrolnya ngga direkam sih. Tp berhasil membentuk rumusan di otakku yg rapuh ini. Udah…
Aku sekarang mengajar tahsin tilawah keliling… Guru, ceritanya!
Guru, digugu, ditiru. Waktu sebagian murid ada yg tau masa laluku yg hitam, alhamdulillâh, mereka ga ada yg kabur. Tetap menyayangiku sbg gurunya.
But hey, Soeharto blm taubat…(?) Ah, siapalah aku yg penglihatannya sebatas yg Tuhanku izinkan untuk melihat. Yg pendengarannya sebatas yg Tuhanku izinkan untuk mendengar. Yg ilmunya cuma segini-gininya di lautan hikmah.
Aku guru pada kapasitas ilmuku tentang tahsin. Bukan komputer, akuntansi, atau yg lainnya.
Soeharto guru pada hal2 tertentu yg manfaat. Bukan yg tak manfaat.
Hindun, pemakan hati Hamzah paman Rasulullâh saw, dimaafkan beliau saw. Kemudian Hindun mengisi sisa2 harinya dgn kebaikan. Selebihnya urusan Allâh swt.
Insyaallâh, aku tetap mengingat kebaikan Soeharto. Agar bisa ditiru oleh yg lainnya.
Insyaallâh, aku tetap mengingat kesalahan Soeharto. Agar bisa tidak ditiru oleh yg lainnya.
Wallâhu a’lam… (tamat)
Punten teh Yenni yg baik, saya menyampah di halamanmu. At least it’s my thought. One can agree with it, one can not.
(nb: mungkin pks lbh baik pake kata Tokoh Bangsa kali ya? Tapi saya tetap berhusnuzhon kok, bahwa maksud mereka baik)
Hatur Nuhuuun pisan…
Betuul…sepakat….!! (Kaya suaranya yg pada di Senayan aja
). Sepakat bro Silmikaffa…
Tokoh Bangsa….sebutan yang lebih baik, bukan?
Wah bro…antum seorang Guru….
Subhanallah…
Guru kecil2an teh…
Tapi tetap dgn misi besar (yg bukan muluk) membangunan peradaban bangsa dari lingkungan terdekat. Sulit sekali teh menjaga keikhlasan.
Semoga Allâh swt mengampuniku…
Amin.
Smoga diskusinya juga ikhlas krn Allâh. Saya mah pamit mundur. Ilmunya ga cukup untuk ikutan.
Bârakallâhu fîkum…
“Guru kecil2an teh…
Tapi tetap dgn misi besar (yg bukan muluk) membangunan peradaban bangsa dari lingkungan terdekat. Sulit sekali teh menjaga keikhlasan.
Semoga Allâh swt mengampuniku…
Amin.”
Hanya satu comment untukmu bro….
Luar biasa! Jazakallah Khoiran Katsiir….
Waduh, kayaknya bukan kapasitasku deh diskusi tentang Guru Bangsa atau Tokoh Bangsa atau Pahlawan Bangsa atau dsb. Soeharto…hmhmhm..No comment, hehehe..
aku lebih suka melihat iklan itu sebagai iklan politik, jadi ya tentu saja untuk motivasi politik lah, menjelang 2009. Tentu bukan sebuah kebetulan dan tanpa alasan pemilihan tokoh2 seperti Bung Karno (nasionalis dengan pendukung fanatik yang sangat besar), kiai Ahmad Dahlan (yang diinternal Muhammadiyah sendiri sedang marak wacana tentang hubungannya dengan politik, termasuk dengan PKS. Banyak juga aktifis Muhammadiyah yang terlibat di PKS, termasuk di daerah asalku), Kiai Wahid Hasyim (pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia), sampai Soeharto (yang secara tradisional masih memiliki “pemuja” fanatik, terutama orang-orang desa yang menilai reformasi gagal memenuhi tuntutan kesejahteraan). Muaranya saya pikir jelas kok.
Dan kalau perdebatan hanya masalah status Guru Bangsa, tentu juga bukan sebuah kebetulan kenapa PKS tidak menampilkan sosok Tan Malaka.
Sekian ajah komenku, sori kalau ga intelek, hehehe…
Memasuki 2009, jelas semua ada tendensi politis, mas Ariel. Hanya saja, mungkin, menjadi sesuatu yg mengejutkan publik ketika penganugerahan gelar itu diberikan oleh sebuah partai yang demikian dekat dengan nilai2 moralitas. Dan sebagian besar rakyat negeri ini memiliki catatan miring tentang seorang Soeharto…terlepas dari semua hal-hal positf yang dia lakukan.
Tentang Tan Malaka…wah…kok yo luwih parah?
Bukannya ada indikasi bahwa dia seorang sosialis?
Boleh ikutan nimbrung kan Bu?
Kalau saya pribadi melihat apa yang dilakukan oleh PKS untuk pemilu 2009 nanti benar-benar menghebohkan.
Siapa sangka partai yang dahulunya disegani karena idealis dan dengan slogan bersih, jujur,peduli kini seolah-olah bertransformasi menjadi partai yang tidak jauh dengan partai-partai lainnya yang hanya mengejar suara pemilih.
Kultur yang selama ini melekat erat tiba-tiba coba digebrak di tahun 2008 ini dengan menampilkan keluarga cendana sebagai ikon transformasi PKS.
Terlihat sekali transformasi yang dilakukan oleh PKS ini sangat rawan. Di satu sisi menampilkan sosok keluarga cendana memang dapat menarik pemilih nasionalis pendukung Soeharto namun di sisi lain PKS bisa kehilangan pemilih setia mereka, anak-anak muda era reformasi ’98 dll.
Akan menjadi buah simalakama bagi PKS jika terus saja mencoba mengeksploitasi keluarga cendana.
Dan sedikit saran saja tidak perlu menggebrak dengan sesuatu yg heboh untuk mendongkrak pemilih, karena rakyat kita sudah lebih cerdas dalam melihat mana partai yang terbaik yang akan mereka pilih.
Kalau saya justru khawatir bukannya terdongrak malah justru banyak yang ninggalin PKS di pemilu tahun depan itu.
Betul bro Jafar…kalo kata seorang teman yg mengirimkan sms nya ke hp saya…PKS bertransformasi menjadi PKS…Partai Keluarga Soeharto
Ups…afwan saudara-saudaraku di PKS. Percaya deh apa yang saya katakan ini tidak ada maksud mendeskreditkan. Semua Saya katakan karena Saya mencintai Anda semua sebagai seorang muslim. Saya sangat simpatik dengan apa yang Anda perjuangkan hingga pilihan saya selalu jatuh kepada kalian.
Tetapi iklan itu seperti sebuah anti klimaks. Terlalu banyak muslim yang akan tersakiti akibat iklan itu. Kalo saya hitung-hitung, mudhorot dan manfaatnya…masih banyakan mudhorotnya.
Mudhorot pertama, seperti analisis saudara Jafar di atas. Mudhorot kedua, banyak sekali yang akan sakit hati…karena kita tdk bisa menutup mata dari semua korban yang berjatuhan selama 32 tahun. Bisa Anda bayangkan, bagaimana perasaan Anda ketika orang yang bertanggung jawab atas kematian orang yang Anda cintai, mendapat gelar kehormatan itu? Saya yakin mereka akan merintih karena rasa sakit di dada mereka…
Mudhorot ketiga, akan banyak orang yang tadinya memiliki harapan yang demikian besar di pundak kader PKS yang demikian memegang nilai-nilai religiusitas dan moralitas, menjadi menjauh bahkan antipati.
Manfaatnya….ya cuma jadi lebih terkenal. Maksudnya lebih terkenal kontroversial
Terima kasih, bro Jafar karena telah mampir. Sebuah kehormatan mendapatkan opini dari Anda.
Waaah…. masih belum banyak yang ikut nimbrung ni mba? Belom terlalu panash kayanya?
Padahal saya sudah mandi dari tanggal 9 kemaren dan baru selesai sekarang! Nih ampe mengkerut putih nggak karuan
*bo’ong dink!*
Belum mau bicara banyak dulu, cuma dikiiiiit untuk mba Yenni, mengenai mashlahat dan mudharat, saya pikir tergantung paradigma dech. Mungkin kita yang nggak setuju nganggap itu lebih banyak mudharatnya dan belum tentu dunk yang setuju juga melihat hal yang sama seperti mbake!
Maksudnya gini, kabur atau nggak kabur, pilih atau nggak pilih, itu kan tergantung nanti toch! Mungkin kita berpikir begini tapi belum tentu takdir Allah begitu toch?
Kalaulah boleh saya setuju dengan pendapat mba Yenni dan kang Jafar yang bilang “Di satu sisi menampilkan sosok keluarga cendana memang dapat menarik pemilih nasionalis pendukung Soeharto namun di sisi lain PKS bisa kehilangan pemilih setia mereka, anak-anak muda era reformasi ‘98 dll.” Mungkin juga sih. Tapi kalau ternyata kehendak Allah beda gimana? Oke misalnya…
misalnya ni ye…
Sorry ini misalnya loch… hehehe… saya nyebelin khan?
pemilih setia mereka (mungkin salah satunya saya hehehe
mungkin lagi ni ya… ) dan anak-anak muda era reformasi ’98 bener-bener pada kabur… (karena dikejar guguk eh golput misalnya hehehe karena mungkin nggak ada yang lebih baik darinya) kan bisa aja digantikan dengan orang lain yang mungkin… mungkin lagi loch ya…
lebih banyak, misalnya dari orang-orang yang memang nggak religius dan moralis, kan berarti prediksi kita salah.
Dan karena itu juga eh ternyata kinerja mereka jauh lebih baik apakah baik dari sisi religuitas, moralitas, profesionalitas, pengayomitas (maksa banget ya
) dan tas-tas yang lain yang positif meski yang dukungnya orang-orang yang jelek sisi-sisi tas-tas yang di atas gimana?
Ya nggak gimana-gimana juga sich… hehehee… Tapi akan terkesan konyol nantinya setelah dibenci, dihujat, nggak dipilih, terus turut menikmati kesuksesan yang sudah dimulai oleh orang lain yang nggak memiliki keutamaan tas-tas itu seperti kita (kita?
ElO aja kalE!
). Kayanya gimana ghitu… Sementara orang-orang yang kurang tas-tasnya tadi cuma kebagian sisanya gara-gara digarap sama kita-kita yang punya sisi kelebihan tas-tas tadi.
Eeh… kebanyakan ya?
Padalah ini masih belum bahas pointnya loch…
Udah dulu dech… aku mau denger yang lain dulu bicara… sekarang saatnya untuk berpisah! saatnya untuk berpisah! (kok kaya teletabis ya?
) Maksud saya mau duduk-duduk ditiker yang udah disediain mba Yenni sambil nunggu temen-temen yang lain ngeluarin kekesalannya apa iklan tersebut.
Eeeith!!!!! Ini pisang goreng pada kemana? Mentang-mentang saya mandi dua hari malah diabisin semua!
Mbak Yenni, please dunk keluarin lagi pisang gorengnya…. Lebay bangget ya saya….
*Nggak peduli mode OFF*
Tetep… ngga ikutan…
PKS tetap te best there is, koq.
Kurasa PKS udah menghitung manfaat & mudharatnya. Dan saya berhusnuzhan, bhw dewan syari’ah mereka adalah jejeran orang2 hanif. Mereka udah bekerja keras, amin…
*mojok lagi sambil maksa dalam hati, bhw yg lebih cocok ya kata TOKOH itu. Pisgornya mana ya?(bergumam)*
Hey! Akhi, kadiye atuh! Ulah mojok2 kitu jiga nu hayang naon wae. Nih di diye ti samping abdi. Samping teh naonnya bahasa sundanya. Engke disangka kain lagi *cengar-cengir sambil mikir : ini si akang dari tadi nggak ikut-enggak ikut tapi komentarnya banyak? Kumaha nya?
Cekikikan sendiri jiga nugelo nahan geli sambil pegangin perut.
coz udah seneng ada yg bantu aku buka paradigma positif (khusnudzhan) ke temen2 lain*
Sumpe kagak ikutan…
Cuma nyeletuk… Nyeletuk panjang… Nunggu kesempatan tamu lain meléng, buat nyamber pisgor…
Untuk pendapat Bpk Ibnu Abdul Muis:
Susah juga deh kalau dah dimentokin sama apa yang namanya ‘Takdir Allah’. Hehehe.
Kalau saya sendiri justru melihat kepada apa yang saya alami dan saya lihat. Di pemilu tahun 2004 saya pilih PKS (pemilihan anggota dewan legislatif) karena saat itu saya berpikir PKS merupakan partai yang terbaik dari yang terburuk sedangkan untuk pemilihan presiden saya abstain
. Dan jika melihat sepak terjang PKS tahun ini saya koq jadi berkurang simpatinya begitu pun dengan beberapa teman dan kenalan saya yang notabene mereka itu awalnya ‘menyukai’ PKS tapi memang bukan seorang yang fanatik dengan PKS.
Bahkan ada kemungkinan tahun 2009 pun mungkin jumlah pemilih abstain akan semakin banyak. Prediksi lho bukan takdir, hiks karena kejenuhan dengan partai yang banyak tapi tidak ada satupun yang ‘berani tampil beda’ dalam arti yang tepat ya bukan tampil beda tapi justru malah menjadi heboh tidak karuan.
Tapi lagi-lagi kalo dimentokin sama takdir Allah SWT saya ga akan bisa ngomong apa-apa lagi. HEHE.
Iiih, kang Jafar bandel ya…
Orang udah dibilang aku ga ikutan, diseret-seret pula…!
Terpaksa nyeletuk panjaaang deh:
Bukan dimentokin ke taqdir Allâh, kang. Apalagi dibenturin.
Taqdir Allâh itu pasti, prediksi bisa tak pasti.
Nah, prediksi antum dan prediksi temen PKS berujung ke taqdir akhir yg bukan akhir, sebab kalo akhir beneran, kiamat dong (nah lo, bingung sendiri deh gue!). Maksute, bahkan berprediksi pun sudah taqdir (tambah bingung kan? Pegangan!)
So, siapa yg prediksinya jitu? Only time will tell…
Maksute lagi, aku mah (mungkin juga akhi Ibn yg buandelll itu)hanya berbaik sangka pada PKS dgn segala keputusan mereka, walaupun aku sendiri ga setuju.
Apalagi baik sangkaku didukung oleh suatu yg positif, seperti misalnya: adanya penghafal2 qur’an di sana, adanya ahli2 hadits, ilmuan2, ahli2 tahajud, dsb…
Udah ah, pamit…
Akh ibn, sisain kopinya ya…
Tuan rumahnya ke manaaa lagi nih…
*nyomot pisgor dari tangan kang Jafar*
He he…tuan rumahnya di sini neh…senyum-senyum liat tamu yang nguber pisang goreng
Bro Muis, ngapain juga diskusi mesti panas-panasan. Kan kalo adem-adem an kan malah enak…kaya jogja yang berhari-hari hujan. Trus kalo mau rame…lempar aja bom molotov ke sini…jangan pisang goreng he he…piss.
Tentang takdir…ya kalo udah bicara takdir saya milih diem…kan itu rahasia Allah. Konteks kita bicara kan antara makhluk dengan makhluk…ya pake logika sesama makhluk lah…dimana para makhluk (bukan makhluk halus
) tidak punya pengetahuan apapun tentang apa yg akan terjadi di masa depan.
Analisa yang kita buat ttg implikasi kebijakan PKS ya juga berdasarkan analogi seorang makhluk seperti saya (sekali lagi…bukan makhluk halus). Kalo tentang husnudzon…saya tetep berusaha husnudzon pada saudara-saudaraku di PKS, tetapi bukan berarti menghilangkan kekritisan kita, kan? Kalo saya nggak husnudzon, saya udah mencak2 ama suami saya yang notabene…ya..he he…tamu2 ku mungkin tahu lah.
Mungkin benar kata bro Kaffa…andai bukan kata GURU yang dipilih…mungkin tidak seheboh ini. Wallahualam
Saya jadi inget pas pemilu 2004…saya juga abstain pas pilpresnya…he he…sebabanya saya nggak sempet datang ke TPS tempat saya terdaftar gara2 sibuk monitoring di lapangan sing ada beberapa kekacauan di beberapa kab di yk…he he padahal saat itu saya masih kerja di KPU..payah tenan
.
Jujur aja saya termasuk yg ngenes dg iklan itu…entahlah…setiap lihat iklan itu, saya selalu ingat dulu jaman masih PK dengan nomor urut 24…trus PKS dengan nomor urut 16. Saya punya keyakinan besar ketika kursi DPRD DKI bisa dipegang saudara2ku…saya punya asa yang besar, bahwa akan ada perubahan yang akan di bawa oleh saudara-saudraku ini. Hiks…tapi pas jadi nomor urut 8…saya jadi ngenes…hiks…
Jazakumullah khairan katsiir buat bro Muis, bro Kaffa dan bro Jafar atas kesediannya utk tetap menyantap pisang goreng disini
. Ntar kapan-kapan menunya kita ganti ya…he he
Oia bro Jafar…saya sempet mampir di dhuha net…nice web. Kalo mau gabung…gimana ya?
He he maklum…gaptek.
dhuha.net sekarang ini masih jadi web pribadi tetapi kalau memang seandainya ada artikel/e-book yang bagus (tidak menyinggung agama lain, tidak membicarakan masalah fiqih khilafiyah) bisa juga dikirim ke email saya:
soddik@gmail.com
Kalau bisa sih artikelnya udah 2 bahasa, inggris n indonesia biar lebih luas jangkauan dakwahnya dan biar ga repot2 terjemahinnya. Hehe.
Kalau mau kirim2 artikel yg ada di web saya satu lagi http://www.depoku.com juga bisa (yg ini bhs indonesia), tinggal register aja.
Saya kirain itu web keroyokan
Ok…syukron infonya akh…
wah aku juga engga ikut2 deh soal ini, apalagi tentang pemberian gelar sebagai guru bangsa….
Aku hanya ingat di semanggi beberapa tahun silam lari pontang panting menghindari desingan peluru dan saat menduduki gedung dpr mpr itu saja….. hehehe,….
oh ya pisang gorengnya jangan dihabiskan aku belum ambil……..
He he…bang han han bisa aja. Dah dihabisin bro Muis and bro Kaffa deh kayaknya tuh pisgor…
Aku juga inget tahun 98…pas aku terjebak di depan Gedung Pusat UGM. Tak bisa bergerak. Karena polisi sedang memburu dan merazia mahasiswa di kost-kostan sekitar kampus (persis kaya polisi pas ngerazia preman akhir-akhir ini).
Padahal aku belum mahasiswa kala itu…hanya sedang ada di UGM utk sebuah keperluan. Yah wrong person in the wrong place. Dengan mata kepalaku sendiri aku lihat gimana brutalnya mereka. Untuk menghindari desingan peluru (katanya sih karet…tapi kok mematikan ya?), aku dan mahasiswa2 UGM lain, lompati pagar setinggi telingaku, dan berlindung di sebuah ruang di gedung pusat. Bermalam di sana. Di bawah kolong meja…dengan penuh ketakutan…berharap2 cemas…jangan sampai polisi2 bersenapan itu masuk ke ruangan kami.
Wuih…kalo diceritain semua tentang masa2 itu…nggak habis2…he he bikin sakit hati aja.
Tapi minimal, kan bang Han bisa jadi bagian dari sejarah ya…he he…kan ikut menduduki gedung dpr mpr.
Thank udah mampir bang…
Waduh….
ketembak masalah takdir ni saya… diem dulu dech….
Tapi ada tambahan tentang kewajaran kalau kita pada kaget atas iklan tersebut. Tahu dunk tragedi Tanjung Priok. Saya pernah baca bahwa umat Islam yang mati ditembakin itu diangkat pake truk saking banyaknya. Dan katanya juga diangkat dari jalan pake mesin pengeruk… masyaAllah berarti itukan banyak banget dan sadis. Aduh… saya jadi sesek dada lagi nih kalau ingat yang ghitu…
Jadi mending sudahi saja membahas hal-hal yang tragis yang telah dilakukan almarhum, karena akan membuat kita sulit untuk melihat kedepan.
Mengenai guru atau pahlawan atau apalah… biarkan saja masyarakat yang menilai. Kita cukup menunggu apa yang terjadi di 2009 nanti.
*duduk santai lagi di tiker sambil nungguin pisgor datang plus komentar panas hehehe…ngomporin terus…
*
He he…jangan lupa bawa kompor bro Muis…biar di sini panas
Walah kalo nunggu 2009 kan kelamaan he he
Nampaknya justru tak bijaksana kalau kita melupakan hal-hal tragis itu. Mengingat bukan berarti membuat langkah kita tersendat menuju ke depan, bukan?
Mengingat adalah sebuah upaya untuk belajar dari sejarah, agar negeri ini tidak perlu mengalami masa kelam itu lagi.
Belajar dari sejarah adalah sebuah keharusan…agar semua bisa lebih mampu berempati pada mereka yang mengalami langsung.
Nampaknya tak ada relevansi antara belajar pada sejarah dengan sulit melangkah ke depan, kan?
Apalagi bro Muis juga mengakui bahwa sang central tokoh diskusi ini memang demikian bertanggungjawab pada nyawa-nyawa yang hilang…seperti kasus priok misalnya. Masa kita mau kasih gelar Guru Bangsa pada orang yang tangannya berdarah-darah gitu he he
Betul, kan?
Piss bro…:)
Kalau saya sih, gak ada gunanya berguru pada para tokoh tersebut. Kalau mau berguru ya pergi aja ke panti asuhan, ke tempat pemukiman kumuh. Disitu kita akan mendapat kan ilmu.
Boleh juga tuh sarannya dicoba
Makasih dah mampir mas Noto
yuu.. ikutan IBSN Blog Award di cantigi.. ^_^
Ok deh mas….
Wah..tapi nggak pede aku
Jangan menyalahkan PKS.
Jangan juga menyalahkan Pak Harto.
Dan jangan juga samakan diri kita dengan Tuhan. yang seolah-olah kita mengetahui PKS dan Pak Harto berbuat kesalahan ataupun tidak.
Itu adalah hak Allah. Menentukan manusia berbuat salah atau tidak, masuk neraka atau masuk surga.
Intinya, Pak Harto adalah seorang muslim.
Mari sebagai umat Islam serta sebagai umat muslim kita doakan Pak Harto.
“Allahummaghfir lil mu’munina wal mu’minat – wal muslimina wal muslimat.
“Allahummaghfirlaha warkhamhu wa’afihu wa’fuanhu wa akrimnurulahu.. Ya Allah, ampunilah Pak Harto, berilah rahmat kepadanya, selamatkan dia, ampunilah dan tempatkanlah dia di tempat yang mulia.. AMIN.
Wallahu a’lam
http://www.putrapurnama.wordpress.com
hmmm…
yg menjadi pertanyaan saya adalah.. apakah PKS dipilih karena dulu PKS menghujat suharto?? saya kira tidak..
PKS dipilih karena PKS dapat menunjukkan bahwa PKS adalah partai bersih dan peduli..
nah, apabila setelah penayangan iklan itu banyak pendukung PKS yang kecewa.. berarti mereka yang kecewa itu lupa bahwa (sejauh yg saya ketahui) sampai skrg PKS tetap partai yang bersih, peduli, dan profesional..
buat saya pribadi.. hal itu lah yg mendasar, bukti bahwa PKS tetap bersih, peduli dan profesional, sehingga insyaAllah saya tetep mendukung PKS di tahun 2009 ini (insyaAllah lagi bikin screensaver PKS)..
klo masalah PKS mengangkat suharto sebagai ikon dalam iklanya.. mungkin PKS melihat sisi dimana kondisi di jaman suharto *banyak org yang bilang* memang lebih baik dibandingkan kondisi skrg.. walo di sisi lain, masih banyak juga kondisi yang mengenaskan di bandingkan skrg..
yah mungkin seharusnya ada penekanan “forgiven but not forgotten” kali yah..
semangat..
Waduh mas Putra…nampaknya di sini tidak ada yg beritikad untuk menjadi Tuhan, karena kita di sini semua kan makhluk
Mau kaya apa juga…tetep aja kita-kita ini kan makhluk…
Mas Rido…saya sepakat tentang penekanan “forgiven but not forgotten”. Tetep semangat juga ya mas Rido…
Buat mas Putra dan mas Rido…terima kasih atas kunjungannya dan tetap menjaga ukhuwah meski berbeda pendapat.
Jazakumullah Khoiran Katsiir….
Terima kasih atas kunjungannya.
jujur saya agak kecewa dengan PKS. Kesannya PKS setengah-setengah.
Kalo kita diposisi rakyat amerika dan berharap ada pemimpin yang membawa ‘perubahan’ dan tidak mau dipimpin oleh seorang arogan tentu rasanya tidak akan menerima seseorang misalnya Obama, membawa-bawa nama Bush.
Ah…tidak tahu lah…….
Terima kasih kembali atas kunjungan baliknya mas. Hmm…analogi yang logis
Yah saya hanya terus berusaha husnudzon dengan sikap saudara-saudaraku di PKS. Meski hal ini tetap bertentangan dengan nurani saya.
Kekuasaan Soeharto adalah tipologi kekuasaan para Fir’aun… Fir’aun mesti diberantas sampai akar-akarnya walau pada kenyataannya dia akan tetap hidup sampai kapanpun. Musa tak pernah ingin menjadikan Fir’aun sebagai gurunya. Dia memberantasnya karena dia tahu itu salah. Fir’aun adalah sebuah kesalahan! Soeharto adalah kesalahan! Jangan dihidupkan lagi atas nama Islam… itu namanya pengkhianatan.
Untuk para pemirsa PKS, saran saya, adopsilah bagaimana cara Alquran menerangkan soal Fir-aun dan mau yg lebih fokus? Lihatlah surat Al-Lahb.
Tapi semua pembicaraan akan tutup buku kalau inti kolusi PKS dan Soeharto adalah POLITIK KEKUASAAN an sich.
Salam dari Medan
Nirwan
@nirwan,
*
Sorry ni, kayanya terlalu jauh dah menganalogikan Soeharto dgn Fir’aun. Nggak ada manusia yg sempurna honey even Soekarno yg sangat dekat dgn PKI. Tau sendirikan PKI, mereka itu jauh lebih jahat dan sadish terhadap orang lain apalagi umat Islam. Jauh lebih jahat dan sadish dibandingin Soeharto. Saya bicara begini bukan berarti antek Soeharto loch tapi hanya krn ikatan saya muslim dan dia muslim apalagi sudah mati. *mikir ‘ni kompor bisa ngebakar ngak ya
Nyambung lagi sebelum ditanya orang lain
Bagaimana kalau saya adalah salah seorang yg menjadi korban kejahatan Soeharto?
Jawaban ada 2 :
1. Kalau sampai kematiannya beliau masih jahat dan menyakiti rakyatnya maka saya akan berada pada pihak yg kontra dgn iklan tsb.
2. Jika kejadiannya seperti kenyataan sekarang, dimana beliau telah melakukan ishlah dan memperlihatkan dukungannya thd umat Islam dlm 10 thn terakhir sblm dia dilengserkan, saya pikir sosok ustadz Hilmi (ketua MS PKS) yg pernah dipenjara dan terluka hatinya karena ulah Soeharto tetapi mau memaafkan adalah teladan yg patut saya ikuti. Apalagi wallahu musta’an Allah telah mengganjarnya dgn penyakit yg parah dan lama menjelang kematiannya, bisa sajakan kalau itu adalah penggugur dosanya agar saat dia menghadap Allah dlm keadaan bersih dari dosa. Karena yg saya yakini setiap makhluk yg diridhai dan diampuni Allah adalah muslim yg melakukan kebaikan diakhir hidupnya dan seperti itu yaitu diganjar dgn penyakit agar hambanya bersih dari dosa saat menghadap-Nya. Wallahu musta’an.
Tambah lagi
Bagaimana dgn kejahatan korupsi yg dilakukannya?
Setahu saya ada niat baik beliau untuk mengusut dan menyelesaikan kasus tsb setelah dia lengser. Tapi sayangnya (ini jg menurut saya) masalahnya adalah sistem dimana hampir semua orang pejabat dan kroni2nya melakukan hal yg sama. Gmana mau tuntas kasusnya kalau dia sendiri melawan banyak orang yg tidak ingin kasus ini tuntas jgn lupa penjilat2 beliau yg sekarang mencari perlindungan di parpol2 selain golkar. Parah bro! Makanya harus diamputasi satu generasi dgn orang2 yg amanah, jujur dan takut pada Allah.
Caranya bagaimana? Lupakan masa lalu untk dijadikan pelajaran masa datang dan fikirkan bagaimana membangun masa depan tanpa dipengaruhi trauma masa lalu dgn menyatukan para pengagum2 orang2 penting yg ada dalam iklan tersebut.
Sekarang saya mau tanya, ”Apakah salah jika para pengagum dan loyalis Soeharto menganggap beliau sbg guru bangsa seperti halnya para pengagum dan loyalis Soekarno dan yg lainnya menganggap mereka2 itu guru bangsa”. Apa susahnya menghargai hasil2 positif yg telah dilakukan mereka sbg usaha yg perlu diteladani sprti layaknya guru yg dikenal oleh bangsanya. Karena kalau kita mau melihat kekurangan mereka pasti ada hal2 yg tidak layak untuk dijadikan teladan sbg guru bangsa tanpa terkecuali even itu adalah Soekarno. Ini kalau kita mau merinci kesalahan orang lain. Tapi ternyata Allahkan justru lebih menyenangi hambanya untk berhusnudzhan bkn bersu’udzhan.
Udah dulu ya
Nanti dilanjut lagi. *nyender lagi sambil ngelonjor di atas tikar plus makan kacang krn pisgornya masih dipenggorengan dan menunggu komentator lain datang*
Saya sebenarnya kurang sreg menanggapinya, mbak Yeni. Garis besar pendapat Ibn Abd Muis ini saya kira pada komentar pertama “no body perfect.” Kemana pun logika pemikiran seperti ini dibawa, tentulah tak akan pernah dijumpai perdebatan seputar itu.
Begini sajalah. Tanggapan Ibn Abd Muis ini, bagi saya, sudah menggambarkan secara riil kalau yang dilakukan Soeharto identik dengan Fir’aun. Janganlah kita lupa, di saat-saat terakhirnya, bahkan Fir’aun mengatakan taubat sewaktu berada di tengah-tengah laut merah. Apa lacur, kalau nyawa sudah di kerongkongan, pintu taubat sudah tertutup.
Fir’aun terjadi di zaman Musa, tapi Al-quran diturunkan di zaman Muhammad. Untuk apa? “Supaya kamu bisa memberantas fir’aun di zamanmu!” Jadi, itu pelajaran sekaligus cara Tuhan memberitahu kepada seluruh orang di dunia ini, kalau Fir’aun adalah contoh paling riil dari sebuah kekuasaan penindas yang tetap akan hidup sampai kiamat nanti. Perhatikanlah baik-baik cara Tuhan menuliskan Fir’aun itu. Dan bandingkanlah kekuasaan Fir’aun dan kekuasaan Soeharto.
Bacalah surat Al-Lahb, lihatlah di situ bagaimana Tuhan menceritakan Abu Lahab, yg saudara Muhammad sendiri. Apakah Abu Lahab jahat mutlak? Ah, ternyata Abu Lahab pun bergembira ketika mendengar berita Muhammad dilahirkan Aminah. Simaklah lagi dan sekali lagi.
Abu Lahab itu tak bercerita soal kekuasaan, tapi tipologi individu manusia yang jahat, sementara ayat-ayat Fir’aun, Tuhan menceritakan tipologi kekuasaan yang jahat, kekuasaan yang sistemik, yang menghancurkan, yang membinasakan harkat dan martabat kita sebagai manusia.
Jangan sekali-sekali melupakan karena manusia ini pada dasarnya sudah pelupa. Saya ulangi lagi, bila pemirsa PKS ingin mengadopsi bagaimana Islam menceritakan seorang penguasa yang buruk kepada seluruh bangsa, maka lihatlah fir’aun, dan bagaimana Islam menceritakan seorang individu yang jahat, lihatlah Al Lahb.
Di sini, tak ada konteks husnudzon dan suudzon, karena dlm cerita hukum, sekali lagi, tidak sekedar pengakuan, tapi juga saksi dan bukti-bukti. Apakah sakit Soeharto itu hukuman? Saya tak tahu itu. Yang saya tahu, Soeharto harus dikenakan tiga hukuman sekaligus: hukum Islam, hukum positif NKRI dan terakhir hukum Tuhan di akhirat nanti. Benarkah Soeharto bertaubat? Anda carilah seluruh dokumentasi sejarah Indonesia ini, adakah sepotong kalimat yang menyatakan “Saya Soeharto, bertaubat kepada Allah”…. ataupun yang senada dengan itu. Nah, katakanlah, Soeharto bertaubat, hukumlah dia seadil-adilnya, itulah cara menyelamatkannya. Maaf dari sesama muslim adalah fardhu ‘ain, yg belum kita selesaikan adalah fardu kifayahnya, akibatnya kepada seluruh bangsa dan negara.
Ceritakanlah soal Soeharto itu sebenar-benarnya, sekali lagi, sebenar-benarnya, kepada pengikut dan pengagum Soeharto, supaya mereka tahu akibat buruk apa yang telah diwariskan Soeharto di negara ini. Orang Islam telah menceritakan akibat buruk dari PKI, mengapa Soeharto justru kebalikannya?
Sesungguhnya, menyelesaikan masalah Soeharto adalah PR besar negara ini, pekerjaan yang belum selesai, dan karena itu pula, reformasi di negara ini belum kelihatan batang hidungnya. Bagaimana mungkin kita melangkah ke depan, kalau kedua kaki kita tersangkut di belakang?
@ Bro muis…adakah bukti otentik yang bisa menunjukkan bahwa Soekarno lebih jahat dari Soeharto? (Tenang…saya bukan pengagum Soekarno lho). Bukankah sebagai muslim…dosa Soeharto terhadap korban Tanjung Priok juga bisa dibilang tak termaafkan? Dan tidak ada kata maaf itu hingga kini. Upaya ishlah pun juga bukan dari dia kan?
Bro…bahkan harta rampasan yang dia ambil dari rakyat negeri ini aja, sampai mati tidak mau dikembalikan…bagaimana mungkin dia sudah bertaubat di ujung usianya?
”Apakah salah jika para pengagum dan loyalis Soeharto menganggap beliau sbg guru bangsa seperti halnya para pengagum dan loyalis Soekarno dan yg lainnya menganggap mereka2 itu guru bangsa”.
Lha masalahnya buat saya…keduanya tidak layak jadi “Guru Bangsa”…yang satu tersandung wanita…yang satu tersandung harta…yo podho wae
Kan yang memulai memberi gelar2 an itu kan saudara2 ku di PKS bukan?
Tentang pisgor…itu dia masalahnya…nih yg nggoreng lagi mumet ama kerjaan jadi pisgor nya nggak keluar2
Semoga nggak bosen untuk tetap menunggunya ya bro Muis
Maaf mbak, repost, hnya ingin agar commentnya dit4/tema yg benar.
Memaafkan dan gelar Guru Bangsa itu ga ada hubungannya. Krn Soeharto sudah mati, maka kita boleh memaafkan. Tapi ga ada relasinya dg menjadikan guru bangsa. dan salah satu perkara bukan penyebab otomatis dari perkara yang lain. ga ada silogismenya.
#Soeharto dimaafkan, maka dia adalah seorang guru bangsa. (silogisme benar??)
#Soeharto tidak dimaafkan, maka dia bukan seorang guru bangsa. (silogisme benar??)
Dari kedua perkara itu, saya pribadi melihat ada sesuatu yang dipaksakan, krn bukan sebab akibat; tetapi seolah-olah menjadi sebab-akibat.
Kalau silogismenya gini mungkin masuk akal:
#Soeharto adalah seorang presiden yang penuh dengan suri tauladan dan kepemimpinan, maka dia patut kita jadikan sebagai seorang guru bangsa. (sebab akibat).
Tapi kayaknya PKS punya agenda politik tertentu seiring PKS jadi partai terbuka, hal ini dapat dilihat dari Award-award lain yang diberikan PKS. jadi bukan hanya masalah Soeharto saja. Soeharto hanya salah satu dari itu, jadi point of view-nya jangan hnya pada pak Harto.
Mnrt saya pribadi, ketika PKS menjadi partai terbuka seperti halnya PAN, PBB, dll maka justru akan gagal. Saya mendapat info, kalau orang-orang JIL dan orang kristen juga mendapat award dr PKS. apakah ini benar?? kalau benar, apa maksudnya?
Terus saya juga kurang paham, krn saya jadi mahasiswa setelah 1998. Dulu salah satu gerakan yang mendemo pak harto siapa ya? yang ngecap sebagai Dosomuka, Fir’aun, dholim, dsbnya?bukankah KAMMI, yang merupakan salah satu elemen PKS? Kenapa sekarang bisa berbalik? saya adalah orang awam, mungkin yang berkepentingan bisa menjelaskan.
Allah yang Maha Adil
ttg Soeharto ya? hm….bagi dua sisi mata uang, da yang baik ada yang buruk, ada jasanya ada pula korengnya….
bagaimana kita menyikapinya?
Lho, tapi menurut sumber yg dapat dipercaya disini : http://dencow.multiply.com/journal/item/109
(menurut siapa ndak tahu) :p
Kan ada tujuh presiden, nah pak harto yg kedua : (PASTE)
2. SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR.
Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.
Soooo, hihi. Gimana pendapatnya ukh????
@ Bro Gusti…jawabannya saya posting di tempat yg benar ya:) Begini…saya sepakat, bahwa urusan baik buruk kan hak prerogatif Allah…ya kita sebagai makhluk kan tak tahu apa2. Tapi kalau semua masalah kita bawa kesana…kan semua akan berakhir mentok
Bukan bermaksud mengabaikan peran Tuhan di sini, tetapi…bukankan Tuhan juga sudah memberikan rambu-rambu melalui kitab2 Nya tentang mana yang benar dan mana yang salah. Ketika membunuh orang tanpa sebab, menghilangkan nyawa muslim hanya karena beda pandangan politik atau melenyapkan ayah…ibu…anak dari sebuah keluraga hanya karena mereka membahayakan posisi kekuasaannya….bukankah itu jelas-jelas sebuah dosa? Nampaknya kita tak perlu berdebat tentang itu bukan?
Saya tetap berkhusnudzon pada sauara-saudara ku di PKS bro
Saya dibesarkan di KAMMI dan dan saya juga dibesarkan di PKS (meskipun akhir-akhir ini saya lebih memilih sebagai simpatisan setia:) ). Dan masih lekat sekali diingatan saya bagaimana pada tahun 98 awal…hingga menjelang kajetuhan Soeharto, bagaimana KAMMI lahir…bagaimana PK lahir…dengan segala sepak terjangnya….dan sekarang sapa yang saya lihat adalah sebuah sebuah proses kontraproduktif dulu dan sekarang. Inkonsisten…
Benar kata bro Winoto…saya agak sependapat dengan Anda bro…bahwa memaafkan bukan berarti memberikan gelar itu. Memaafkan dia sebagai seorang manusia yang tak pernah lepas dariu khilaf…tetapi tidak untuk digugu dan ditiru…alias jadi Guru.
@akh Eko…nampaknay perlu dilihat dulu…siapa yang bicara gitu. referensinya darimana
Jujur…nek aku a percoyo blas… 
Gimana kabar istri?
@Bro Indra…menyikapinya….? Memaafkan tetapi tidak memposisikan dia sebagai seorang Guru Bangsa (he he…saya nggak maksa lho).
Bro Gusti, Bro Indra, Bro Winoto and Bro Eko….jazakumullah atas opini Anda
ya itu, Ronggowarsito
kebtulan ponakan istri kuliah di uny sastra jawa kuna. Nah, beli buku islam kejawen, dan salah satu tokoh kejawen adalah Ronggowarsito (budayawan kali ya kalau jaman skrg).
Nah, ada ramalan 7 Satriyo Piningit itu.
Tapi,
) tadi saya baca buku yg macem2 gitu jg. ealah, ada versi aneh lagi.
hihi
seru jg.
Sudahlah…
Biar hukum alam yang berbicara.
Mana yang benar “benar” dan mana yang ”pura-pura benar” sehingga seolah-olah menjadi benar serta dijadikan akal-akalan untuk menutupi kebusukan sesuatu pasti akan terlihat.
Dan satu hal lagi, janganlah kita ini berlagak seperti Tuhan dengan menyebut-nyebut Pak Harto bersalah, PKS salah, atau bahkan meneyebut Pak Harto “fir’aun”. Itu adalah hak Tuhan, menenetukan mana yang salah dan mana yang benar.. Mana yang masuk neraka dan mana yang masuk surga.
Wallahu a’lam
http://www.putrapurnama.wordpress.com
Soeharto….Soeharto…
Aduh maaf sobat2ku….aku telat merespon comment2 Anda…liburan ini membuatku jadi sopir keluarga (nggantiin suami) yang pada liburan ke Yogya
Akh Eko…he he tentang si satrio piningit itu…wah kalo saya hati-hati aja merespon ttg itu…takut kejeblos ke musyrik he he.
Bro Putra…terima kasih dah mampir kembali. Seperti respon saya atas comment mas Putra sebelumnya, saya yakin di sini tidak ada yang berkeinginan utk menjadi Tuhan
Dan saya sepakat…Allah pasti akan menunjukkan siapa yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Bukan begitu bro Putra?
Mas Indra…he he Soeharto lagi…soeharto lagi
Semoga tidak bosen
secara pribadi memaafkan suharto oke-oke saja… tapi kalo mengangkat sebagai guru bangsa … hmmm nanti dulu… banyak orang yang lebih layak dari dia.
Salam
Betul mas Heri…
Sepakat!
Andai PKS adalah murni sebuah partai yang sejak awal memiliki platform untuk meraih kekuasaan…saya tak akan begitu kecewa dengan tayangan iklannya yang kontroversial itu. Dan andai PKS adalah murni sebuah partai seperti halnya partai-partai yang lain…sejak awal saya tak mau bersusah payah bergabung dengannya.
Embrio PKS adalah sebuah gerakan tarbiyah, yang dimulai di awal tahun 90-an. Gerakan yang massif dan memberi banyak hikmah di tengah kegersangan masyarakat akan agamanya sendiri. Dakwah dengan hikmah. Sebuah gerakan kultural berbasis ideologi Islam yang berangkat untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Gerakannya dengan cepat mampu meraih simpati banyak kalangan…terutama kalangan terdidik. Jika Anda sempat, cobalah tonton sebuah CD yang judulnya (kalau tak salah) “Sang Murabbi”, yang bertutur dengan apik tentang seorang “Guru” yang demikian dipanuti karena tauladan yang dia berikan..Almh. Ust. Rahmat Abdullah. Anda bisa lihat…bahwa PK (embrio PKS) didirikan oleh para pendahulunya bukan untuk meraih “kekuasaan model Machiavelli”.
Perjalanan pada awal 1998, dari sebuah diskusi dalam FSLDK Nasional, kemudian terlahirlah KAMMI yang demikian intensif memikirkan masa depan negeri ini. Kegetiran dan pembodohan yang harus diterima rakyat negeri ini dalam genggaman Soeharto meyakinkan para pendiri KAMMI untk segera bergerak. Ada sejuta alasan mengapa saat itu KAMMI yakin bahwa Soeharto harus lengser dan saya yakin, Anda pasti juga bisa mengetahui apa saja alasan itu.
Ide pelengseran Soeharto ternyata gayung bersambut dengan elemen gerakan mahasiswa lain. Rekan-rekan dari gerakan lain pun satu kata untuk menyudahai masa tiran Soeharto di Indonesia dan ide-ide pelengseran yang sudah didengungkan oleh banyak kalangan sejak lama. Seperti Anda bilang, sedang ada persamaan kepentingan dari semua kalangan kala itu. Seakan menemukan momentum yang tepat…rakyat yang juga semakin tercekik akibat krisis moneter pun mulai menemukan titik irisan perjuangannya dengan mahasiswa…termasuk juga para politisi-politisi yang sebenarnya sedang numpang tampil agar namanya tak tercoret dari sejarah.
Nah…apa hubungannya KAMMI dengan PKS?
Setelah Soeharto lengser…memasuki pemilu 1999 di bawah pimpinan Habiebie, saudara-saudaraku di gerakan tarbiyah merasa bahwa telah tiba saatnya untuk melebarkan sayap dakwahnya ke dunia politik. Dibentuklah Partai Keadilan…yang karena tidak memenuhi ET sehingga pada pemilu 2004 berganti nama menjadi PKS. Anda bisa melihat irisannya bukan…KAMMI – PK – PKS?
Maka ketika sekarang tiba-tiba PKS hadir dengan gelar baru untuk Soeharto dalam iklannya, saya seperti melihat saudara-saudaraku sednag menjlat ludahnya sendiri. PKS seperti sebuah kapal yang sedang limbung dan kehilangan arahnya. Inkonsisten!
Dan tentang logika kekuasaan yang Anda sampaikan tentang PKS…bro, jika PKS sejak awal hadir sebagai sebuah partai yang ansih mengejar sebuah kekuasaan, saya tak yakin bahwa pada tahun 2004 PKS bisa melejit demikian cepat sebagai sebuah partai yang tak lolos ET menjadi sebuah partai yang mendapat simpati luas dari masyarakat. Simpati itu hadir justru karena melihat bagaimana para kadernya, para simpatisannya, para penggeraknya demikian zuhud terhadap kekuasaan. Yang ketika dalam pemilu internalnya, para kader berebut untuk tidak jadi caleg…karena rasa takutnya dengan imbas dari sebuah kekuasaan. Yang ketika para anggota legislatif lain berebut untuk menerima uang rapelan…tapi aleg PK justru mengembalikan uang itu. Mereka berani mengatakan tidak untuk sesuatu yang mereka yakini sebagai tindakan dzolim. Mereka sama sekali bukan orang-orang yang haus kekuasaan dan ketidakhausan akan kekuassan itulah yang menjadikan PKS diterima oleh banyak kalangan.
Pemberian gelar itu melukai banyak pihak…tak terkecuali saudara-saudaraku yang saat ini pun masih menjadi bagian dari PKS. Banyak pihak yang menyesalkan. Hanya karena ulah beberapa oknum yang sejak pemilu 2004 telah tampak move2 pribadinya…sebuah perjuangan kultural yang dibangun dengan air mata dan darah…hancur luluh lantak.
Sebenarnya panjang dan banyak yang ingin saya diskusikan tentang PKS akhir-akhir ini. Bahkan dalam sebuah blog seorang sahabat yang ada di link saya, ada sebuah dorongan untuk turut berkomentar…sedikt mengiyakan dan sedikit meluruskan, ketika dia sedang berusaha mengurai sebuah logika antara Ikhwanul Muslimin dan serta memaknai arah perjuangan seorang Hasan Al Bana. Tetapi sementara ini saya urungkan niat itu. Hanya karena saya masih sangat menghargai saudara-saudaraku di PKS, yang saya yakin sebagian besar masih memegang teguh komitmen dakwahnya…bahwa proses yang benar adalah sebuah keharusan dalam mencapai sebuah tujuan.
Ah…Rama (Kata yang saya dan suami ucap…hampir bersamaan ketika bro Mahendra menyebut nama itu
)
Tak usah disebut…kami pun tahu
Apalagi suami saya…yang sempat bergelut dengan waktu bersamanya terutama mendekati Mei 98….
Yang kami juga sempat berdebat habis, ketika kami selalu mengingatkan akan bahaya PT BHMN (Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara).
Ah sudahlah…itu luka lama
Sebagai (bekas) orang dalam, saya sangat apreciate dengan opini Anda bro Mahendra. Termasuk suami saya (yang sampai sekarang masih orang dalam tulen
). Apa yang Anda sampaikan adalah sebuah ibrah yang seharusnya bisa diambil semua pihak.
Jangan pernah berhenti untuk bersikap kritis, bro…karena kekritisan bukanlah sebuah reaksi berdasar kebencian…tetapi berangkat dari sebuah keperdulian bahwa setiap manusia perlu selalu berproses menuju kearah yang lebih baik. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna?
Terima kasih bro…
Jazakallah khoir…
Yenny.., “Tentang Tan Malaka…wah…kok yo luwih parah?
Bukannya ada indikasi bahwa dia seorang sosialis?”
“Lha masalahnya buat saya…keduanya tidak layak jadi “Guru Bangsa”…yang satu (Soekarno) tersandung wanita…”
—————–
Bukankah nilai-nilai Islam juga penuh dengan nilai sosialisme? Sosialisme bukan atheisme. Anda tidak mengenal Datuk Sutan Malaka, bagaimana anda bersikap resisten terhadap dia sementara anda tidak mengetahui siapa dia.
Soekarno memang dikenal sebagai laki-laki yang dikelilingi banyak perempuan. Tapi itu tidak menyebabkan Soekarno merugikan rakyat, bangsa dan negaranya. Tidak seperti yang dilakukan oleh Soeharto yang jelas-jelas menyengsarakan rakyat demi kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya saja.
Saya sangat sependapat dengan pernyataan Nirwan tentang Soeharto.
hem . numpang opini aja yah . maaf kalo opininya enggak seperti mas atau mbak yang udah mantep – mantep . saya hanya memberikan opini dari pendapat saya pribadi . boleh kan ?
dalam pandangan saya , mengapa Indonesia tidak bisa maju di karenakan kita tidak berani untuk memutus pengalaman masa lalu kita . saya tidak akan mengatakan melupakan masa lalu . tapi saya lebih memilih untuk memutus masa lalu . mengapa harus di putus masa lalu negara kita tercinta ini ? seperti kita ketahui , orde baru yang muncul setelah orde lama tidak bisa memutus 100% generasi dari orde lama . pun ketika orde reformasi muncul , alih – alih malah tumbang , justru yang bercokol pada era reformasi adalah kader-kader terbaek dari orde baru . ini bisa di buktikan dari masih kuatnya pengaruh Golkar pada pemilu 2004 .
maka , ketika PKS memunculkan kembali isu ini , ini sama saja dengan memberi angin segar bagi kader orde baru yang selama ini cenderung takut untuk menyebutkan identitas sebagai pendukung soeharto . jadi justru secara tidak langsung PKS sudah membuktikan bahwa partai mereka mendukung soeharto . dan ini justru akan memperlambatkan proses reformasi yang sekarang aja masih berjalan tersendat-sendat .
kembali ke pemutusan generasi , ketika jaman berganti dan orde berubah , maka sudah seharusnya kita berubah menjadi lebih baik . namun masih bisakah itu di lakukan jika kita masih bersekutu dengan antek orde baru ? jika yang berkuasa masih berafiliasi terhadap orde sebelumnya yang terkenal karena satu warisan yang mewabah sampe tingkat dasar (korupsi) maka hampir bisa di pastikan masa ini tidak lebih baik dari sebelumnya . jadi saya pikir bahkan jika PKS menang dengan dukungan partai Golkar pun PKS tidak akan cukup kuat untuk berkata tidak pada keputusan yang merugikan rakyat dan umat Islam . karena tentu saja Golkar tidak akan semudah itu memberikan suaranya kepada PKS jika tidak ada timbal balik .
yah , , mengenai masalah penyebutan Guru Bangsa , saya idem aja dengan mbak yenni pada artikel pembuka . memaafkan tidak identik dengan penyematan guru bangsa .
oh iya mas muis , , saya tertarik dengan yang ini nih :
mungkin lagi loch ya…
lebih banyak, misalnya dari orang-orang yang memang nggak religius dan moralis, kan berarti prediksi kita salah.
Dan karena itu juga eh ternyata kinerja mereka jauh lebih baik apakah baik dari sisi religuitas, moralitas, profesionalitas, pengayomitas (maksa banget ya
) dan tas-tas yang lain yang positif meski yang dukungnya orang-orang yang jelek sisi-sisi tas-tas yang di atas gimana?
walopun ntr kinerja mereka jauh lebih baik , tp maukah mereka menegakkan syariat Islam ? saya pikir ndak . kebanyakan dari pemilih PKS tentu memilih partai ini dengan harapan (salah satunya) menegakkan syariat Islam . dan ini klo g salah (klo g salah nih ya) udh ada di AD/ART partai . lalu bisakah hal itu di bebankan pada mereka yang tidak bertujuan untuk itu ?
penutup comment (g kerasa udh panjang . maap ya mbak
) , , saya masih mengharapkan PKS akan menjadi partai aliran seperti dahulu lagi . sehingga punya identitas dan acuan yang pasti . yaitu qur’an wa sunnah . klo sekarang , , kayaknya mulai bergeser deh . so , , ayo perbaiki PKS . . . ! !
note : ada artikel menarik berkaitan dengan ini silahkan liat di sini .
Yenni says:
Sepakat, buat Sheva!!
Eh bro, aku salut banget deh….di usiamu yang masih demikian muda…analisis mu sudah luar biasa
He he…calon politikus
Saluuut!
Omong-omong soal PKS ini ada disertasi dari dosen UI ttg kebangkitan tarbiyah dan PKS. Bisa dibaca disini:
http://epress.anu.edu.au/islamic/islam_indo/mobile_devices/index.html
Yenni says:
Syukron katsiir atas infonya
oooh mbah harto masih laku toh?
Yenni says:
He he pak heri…mungkin mbah harto ngambek th dg comment nya pak heri…
Lha comment ini tadinya nyasar ke spam lho