Senin pagi, 22 Desember, pukul 06.15 WIB. Aku masih berkutat dengan pekerjaanku yang sudah terkena deadline. Huahmm…ngantuk banget. Baru 3 jam aku memejamkan mataku dan aku tak punya cukup waktu lagi untuk meneruskan tidurku. Pekerjaan ini benar-benar memaksaku untuk tetap berfikir dan terjaga.
Tiba-tiba sebuah sms masuk. Dita…dia staff ku ketika di BEM UGM dulu. Ada apa gerangan adikku ini mengirimiku sms pagi-pagi?
“Selamat hari ibu… Semoga ibu termasuk ibu yang selalu menjadi penerang dan pengayom keluarga.” Deg! Jantungku tiba-tiba berdebar keras karena rasa haru yang luar biasa. Selama 6,5 tahun menjadi istri dan 2,5 tahun menjadi seorang ibu, ini adalah sms pertama yang kuterima di hari yang “sakral” bagi para ibu. Karena demikian berkesannya sms itu, sampai-sampai aku kehilangan kata untuk membalasnya. Tapi deadline pekerjaan membuatku tak punya waktu untuk menikmati kontemplasi ini.
Siang hari, ketika rehat sebentar setelah menghadapi para klien, hp ku kembali berbunyi.
“Selamat hari ibu…semoga tetap komitmen untuk berjuang melawan kekerasan pada perempuan”, sms dari seorang sahabat yang kini sibuk dengan perannya sebagai dosen di UNAIR.
Sms kali ini benar-benar membetot perhatianku. ‘Kekerasan Terhadap Perempuan’. Ketika kalimat itu melintas di kepalaku, yang terbayang adalah gambaran Bu Titik…tetanggaku. Dulu dia sempat kerja sebagai buruh cuci di rumahku. Yang setiap hari pontang panting kerja serabutan untuk menghidupi suami dan anaknya. Suami?? Iya…suami! Suaminya sehat walafiat kok. Gagah! Tiap hari kerjaannya bercengkrama dengan burung perkututnya, ngerokok, ngobrol dengan tetangga, makan dan tidur. Kerja?? Sudah lama dia tak bekerja. Entah kenapa. Yang pasti, dia akan marah-marah jika di meja makan tak ada lauk dan sebungkus Dji Sam Soe buatnya. Dan dia tak mau hanya berlauk tahu tempe, minimal ada telor. Lalu anaknya?? Anaknya seorang juru parkir di toko oleh-oleh khas Jogja di pinggir Jl. Solo. Gajinya?? Gajinya hanya cukup untuk membeli minuman keras dan berjudi. Tapi untuk makan siang, paling tidak anaknya tidak gangguin lauk makan siang bapaknya, karena dia masih bisa beli sendiri. Untuk makan malam?? Ya lagi-lagi Bu Titik yang harus menyiapkannya.
Sabtu, 27 Desember 2008. Sebuah sms masuk…masih dari sahabatku itu.
“Pada hari Sabtu, 27 Desember 2008 pukul 12.15 telah terjadi pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan, yang dilakukan oleh satpam terhadap dosen perempuan UIN Jogjakarta”. Waduh…apalagi ini. Setelah kukonfirm, ternyata korban pelecehan dan kekerasan itu istrinya sendiri!! Kekerasan dalam bentuk intimidasi dan kekerasan fisik (diseret) dilakukan di dalam lingkungan kampus. Bayangkan…kalo dosennya aja bisa digituin…mahasiswanya bisa diapain ya?!! Payah tenan ini! Satpam-satpam itu kayaknya lupa bahwa mereka lahir juga dari seorang perempuan. Dan yang lebih menyedihkan adalah kekerasan itu terjadi di lingkungan pendidikan…yang seharusnya memegang teguh nilai-nilai moralitas, norma dan kesusilaan. Waduh-waduh…mau jadi apa wajah pendidikan Indonesia ini jika preman-preman bisa diberi seragam dan menguasai kampus.
Setelah mengontak beberapa teman yang kebetulan aktif di Pusat Studi Wanita, masalah ini rencananya akan dilanjutkan dalam bentuk pengaduan ke PSW dan rektorat. Kabar terakhir sih rektorat maunya di damaikan…tapi kok aku nggak sreg ya? Model ginian tidak bisa hanya “forgivness” and “forget it”. Tapi harus ada punishment yang jelas, apalagi para satpam-satpam ini ternyata sudah cukup meresahkan civitas akademika UIN. Ada sebuah kesepakatan hitam diatas putih, dan ada blow up media. Itu minimal! Kalau pun UIN kahwatir namanya tercoreng akibat pemberitaan media, ya tidak ada cara lain agar ada sebuah tindakan tegas bagi para pelaku kekerasan apalagi kepada para perempuan.
Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Bukan untuk disakiti, tetapi untuk dilindungi dan dikasihi. Karena semua manusia terlahir dari rahim seorang perempuan. Ketika mereka menyakiti perempuan maka dia sama saja dengan menyakiti ibunya. Manusia macam apa yang berani menyakiti ibunya?
Hari ibu tahun ini meninggalkan kesan mendalam untukku…
Untuk semua ibu….Selamat Hari Ibu…
(Terima kasih untuk Sang Pendamping, yang membuatku yakin bahwa aku wanita paling beruntung di dunia….dan terima kasih untuk Aisya yang memberiku kesempatan untuk menjadi seorang Bunda untukmu)
Filed under: Mother, kid and family Ditandai: | Hari Ibu, kekerasan perempuan, women






Selamat hari ibu…
Salam kenal.. makasih atas kunjungannya… sering sering maen yach bu…
Wah..satpam ngendi Bu??:@.Kok gak masuk berita ya..:-o
walah…kan di postingannya ada
Bacanya belum selesai nggih mas gusti?
Makasih buat mas airlangga…
Dan matur nuwun juga kagem mas gusti atas kunjungannya
Selamat hari ibu, walaupun sudah telat
Semoga tetap menjadi ibu yang baik, ya bu
Makasih mas Heryan…
Saya juga telat kok posting artikel ini he he…kelamaan liburan ni.
Terima kasih sudah mampir
Makasih bu, dah maen ke rumah
Dunia yang annneh….
Ibrah yang besar tapi, teh. Orang bijak bilang, sebenarnya kejadian2 di luar sana lbh penting bagi ‘si penonton’-nya , ketimbang si pelaku. Sekarang aku mengerti maknanya.
Daagh Aisyaaa, cup cup dari Om!
Sama-sama mas Heryan…
@ Aa…emang dunia ini aneh
Semoga kita bisa mengambil ibrah atas semua yg lalu lalang di sekitar kita ya
Daagh om…salam buat dedek Kaffa
God is beyond everything that u could imagine.. related to all the beauty in this universe. And one of God greatest creation is, a women.. ^_^
Nice poem…
Terima kasih atas kunjungannya kang Deni
”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya, dimana ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yg bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” (QS. Luqman: 14)
”Wahai Rasulullah siapakah yang paling berhak aku pergauli dengan baik?” Beliau menjawab: ”Ibumu, ibumu, kemudian bapakmu!” (HR. Bukhari Muslim)
Allah dan rasulnya saja sangat memuliakan ibu, mengapa kita yg sangat hina tak berharga justru menistakannya.
Waduh tuh orang yg nyakitin wanita lahirnya dari dalam bambu kali ya?
Selamat hari ibu ya BU, semoga pengabdian iBU thd suami, anak, ayah dan iBUnya iBU dan ayah dan iBU mertuanya iBU, bisa menjadi inspirasi Aisya dan semuanya ketika menjadi iBU.
Maaf ya bu kalau harapan saya ini terasa garing. Maklum hati saya masih gundah gulana memikirkan nasib saudara kita di Gaza.
barakallahu fiik.
Makasih ma !
Tanpa mama fika nggak bisa seperti ini , ini semua berkat mama n nggak ada yang bisa menggantikan posisi mama di hati fika !!!!!
Mama i love u full……………
mantan sob