Latest Event Updates

CINTA ITU KUTEMUKAN DI MEDARI GEDE…

Posted on Updated on

(Karena Merapi “batuk” 3 hari yang lalu…aku teringat dengan sebuah dusun di daerah Sleman yang begitu “mengikatku”. Untuk sahabatku yang sempat berurai air mata membaca tulisan ini …ayooo kapan kita bikin agenda “Besar” utk Medari Gede dan desa-desa lain serupa. We have a great job!!!🙂

Re-posting tulisanku 2,5 tahun yang lalu🙂  )

—————————-

 

13 Februari 2011. Tepat sebulan kami meninggalkan (dan melepaskan) rumah di Dusun Medari Gede Sleman dan menempati rumah baru di Dusun Banjardadap Potorono Bantul. Lelah akibat proses konflik yang demikian panjang untuk memahami dan mendapatkan arti “Keadilan” masih belum hilang. Kuketahui itu setelah kusadari bahwa hingga kini aku belum siap untuk berbicara tentang rumah di Medari itu. Meski secara definitif kami “MENANG” dan secara fisik rumah di Bantul ini jauh lebih nyaman tetapi kenyamanan itu belum juga bisa mengobati “luka” atas realitas bahwa ternyata HUKUM DINEGERI INI MASIH BUTA DENGAN PARA APARAT BRENGSEK YANG SECARA MENTAL BELUM JUGA BISA BERUBAH!

 

Tetapi…diantara sebuah pelajaran luarbiasa yang membuatku tidak pernah menyesali pernah menjadi bagian dari sebuah dusun yang dulu disebut dengan Dusun Miskinan selama 1,5 tahun adalah kutemui arti “cinta” yang sebenarnya. Rumah (eks) milik kami di Medari Gede itu terletak di perumahan cluster, hanya saja perumahan tersebut berada di tengah – tengah kampung yang akses jalan menuju ke prumahan harus emlewati jalan utama dusun, Dusun Medari Gede. Sehingga, bagi penghuni perumahan tersebut, sedikit banyak mau tidak mau akan bersentuhan dengan masayarakat medari Gede.

 

13 Januari 2011, di hari dimana kami harus bergegas untuk mengosongkan rumah di Medari Gede. Diantara kepanikan, tekanan dan kelelahan luar biasa yang aku dan suami rasakan…tetangga – tetangga berdatangan tanpa komando membantu kami. Sebenarnya sejak 10 Januari 2011, dihari ketika secara resmi kami menyampaikan rencana kepindahan kami dari Medari kepada masyarakat sekitar, rumah kami tak pernah berhenti dari penduduk sekitar. Hingga larut malam mereka masih berada dirumah,seakan berusaha mengahbiskan sisa waktu terakhir kami di Medari. Mereka berdatangan silih berganti. Dari yang ingin mengklarifikasi kebenaran kepindahan kami hingga yang meratapi kepindahan kami. Duh...setiap kali mereka datang dan menangis sambil bertanya “kok yo njengengan mesti  pindah tho, bu”…luka itu semakin menganga membuatku semakin berat meninggalkan rumah ini.

 

Kamis, 13 Januari 2011. Hari dimana kami harus mengosongkan rumah. Barang – barang sebagian besar belum dipacking padahal pagi itu kami masih harus mengantarkan Aisya ke sekolah yang berjarak 15 an KM dari rumah, aku dan suami ada urusan dg klien yang tidak bisa ditunda. Bingung, kedandapan…pasrah. Tiba-tiba, entah komando darimana, bapak – bapak berdatangan dan berkata “Pak & Bu, njenengan nganter nduk Aisya aja ke sekolah dulu. Urusan rumah dan barang-barang kami yang urus”. Tanpa menunggu kami mengatakan ya, mereka sudah mulai bergerak. Ada yang mengambil obeng melepasi gorden, membongkar spring bed  hingga memasukkan peralatan dapur ke kardus (setiapkali menyinggung tentang ini…aku selalu tercekat menahan air yg sudah menggenang di mataku).

 

Kami kemudian berangkat ke sekolah Aisya dan kekantorku sebentar, meninggalkan rumah yang acak adul. 3 jam kemudian…kami kembali kerumah. Subhanallah…semua barang-barang kami sudah berpindah ke dalam truk. Kulihat nyaris seluruh warga RT 6 RW 1 dan RT sebelah Medari Gede ada disana…sibuk menata barang – barang kami ke truk. Sedangkan para Ibu sedang sibuk menyiapkan makan siang yang mereka beli dengan uang mereka sendiri, bagi bapak – bapak yang hari itu “kerja bakti” dirumah kami. Kutatap suamiku yang speachless. Perasaan kami semakin teraduk – aduk melihat pemandangan itu.

 

Kumasuki rumah yang selama 1,5 tahun pernah menjadi milik kami. Kosong…sekosong tatapanku yang seakan bisa melihat warna – warni kehidupan yang pernah kami lalui disana. Kusentuh pelan dinding rumah itu…Ya Allah…mengapa demikian berat bagiku untuk pergi dari sini…padahal aku tahu bahwa sejak dulu kami demikian kecewa dengan rumah ini.

“Bu…masih ada yang tertinggal, mboten? Pegangan pintu itu dibawa aja…biar Pak Nono nya tahu rasa. Uwong kok sarak tenan“, seorang Bapak membuyarkan lamunanku. Dari kalimatnya, kutahu dia demikian benci dengan Pak Nono (developer) yang menjadi penyebab kepindahan kami dari Medari Gede. Aku hanya tersenyum sambil menggeleng. Seakan memahami ada sesuatu yang hilang di mataku ketika menatap rumah itu, beliau berkata lagi:

“Nek negor uwit pring ingkang dateng wingking meniko saged  marakke njenengan kalian Pak Nur mboten  pindah…kulo ikhlas negor uwit meniko sedanten trus kulo paringke Pak Nono”. Kali ini air di mata yg kutahan tumpah juga. Aku tahu beliau sangat sayang dengan pohon – pohon bambu nya, yang menjulang tinggi tepat dibelakang tembok halaman belakang rumah kami. Selama ini daun – daun bambu pohon itu seringkali berguguran dan mengotori atap dan halaman belakang rumah kami. Meski kami tidak pernah complain,beliau dan beberapa tetangga yang rumahnya tepat di belakang rumah kami, menebang beberapa pohon bambu itu dan memantaunya secara rutin agar daunnya tidak memasuki rumah kami. “Mboten, Pak. Meniko sanes amargi uwit pring. Maturnuwun sanget njih, Pak”. 

 

Sejam kemudian semuanya siap. Ucapan perpisahan terasa demikian dramatis. Semua ibu – ibu menyalamiku sambil menangis. Doa berulangkali mereka panjatkan dengan kata yang tercekat disela airmata yang berulangkali ingin tumpah, semoga ketentraman dan kebahagiaan akan kami temui di rumah baru.  Mereka seperti seorang ibu yang melepas kepergian anaknya…atau kakak yang melepas kepergian adiknya. Bahkan seorang simbah, mbah Yitno namanya, memelukku dan tak berhenti menciumiku sambil terus berulangkali menggumam “oalah bu…bu”. Berulangkali dia menyeka airmata dengan ujung kebayanya yang lusuh. Dengan senyum yang kupaksakan aku terus mencandai beliau:“Kulo pindah kan mboten tebih tho mbah…namung dateng Bantul…mangkih kulo dolan mrikki mben dinten, njih”. Kami akhirnya pindahan. Sebagian besar bapak – bapak ikut mengantarkan kami ke rumah baru. Ada yang membawa motor sendiri bahkan beberapa orang naik ke atas truk bersama barang – barang kami. Untuk terkahir kalinya kutatap rumahku, masyarakat sekitar yang selama 1,5 tahun sudah menjadi nenek, kakek, bapak, ibu kakak, adik dan anak bagi kami. Sungguh, Allah telah mempertemukan kami dengan orang – orang yang mencintai kami seperti darah dagingnya sendiri….

 

****

 

13 Februari 2011. Tepat sebulan kami menempati rumah baru di Dusun Banjardadap Bantul. Tetapi kenangan tentang Medari Gede belum juga terhapus dari ingatanku. Setiap kali melewati sawah, aku selalu teringat sapaan para ibu dan Bapak di Medari Gede yang sedang menanam padi tatkala aku hendak ke kantor setiap pagi. Setiap kali melihat kacang kulit (mentah) atau singkong, aku selalu teringat ketika setiap kali musim panen datang rumah kami seringkali diketuk tetangga yang membagi hasil panennya kepada kami. Dan setiap kali memakan oseng – oseng (tumis) daun pepaya, sulit untuk melupakan tatapan bahagia seorang ibu yang melihatku memakan tumis daun pepaya masakannya dengan lahap. Allah…bahkan aku masih bisa merasakan aroma manis setiap pagi yang kuhirup di depan rumah kami dulu….

 

Selasa, 15 Februari 2011.

Sungguh…aku semakin yakin, cinta itu benar – benar kutemukan dari penduduk Medari Gede.

Hari itu, ibu – ibu….baik ibu muda hingga simbah – simbah, menyambangi kami di Bantul. Bagi aku atau ibu – ibu pekerja dengan mobilitas tinggi, bepergian dari Medari Gede (Jl. Magelang KM 16 Sleman) menuju Banjardadap (Jl. Imogiri Bantul) bukan menjadi sebuah masalah besar. Tetapi bagi sebagian besar ibu – ibu di Medari Gede…yang kehidupan sehari – hari mereka tak beranjak dari rumah dan sawah atau rumah dan pabrik, belum tentu setahun sekali mereka keluar dari dusunnya. Belum lagi aroma solar dari bis, selalu menjadi penyebab mual dan mabuk yang capeknya tidak akan hilang hingga seminggu dan ongkos bis yang tergolong tidak murah bagi mereka,tidak menyurutkan langkah mereka untuk bertandang kerumah kami.

 

Selasa, 15 Februari 2011. Setelah sebulan meninggalkan rumah dan warga Medari Gede yang tak bisa lepas dari pikiranku, kami akhirnya bertemu kembali. Pagi itu, rumahku terasa beda dibandingkan hari – hari biasanya. Tawa, cerita dan tangis anak – anak yang saling berebut mainan demikian membuatku bahagia. Capek yang kurasakan akibat menyiapkan semua logistik bagi mereka, hilang begitu saja begitu mendengar ibu – ibu bercerita ttg kabar Pos Yankes (Pos Pelayanan Kesehatan) bagi ibu, anak dan lansia yang kurintis bersama mereka. Tak lupa, mereka bercerta tentang kondisi rumah (bekas) milik kami yang tentu saja disertai bumbu – bumbu akibat ketidaksenangan mereka kepada developer. Bahkan, penghuni baru di perumahan tempat kami dulu tinggal, tak lepas jadi bahan gosipan ibu – ibu. He he he. Namanya juga ibu – ibu….

 

Tidak hanya pagi hari, sore harinya, bapak – bapak yang tidak ikut mengantarkan kepindahan kami dulu, berdatangan bersama para ibu. Hujan lebat yang mengguyur Sleman dan Bantul sejak siang tidak mengurungkan niat mereka untuk datang ke rumah kami. Ketika suamiku mengingatkan kok ya mesti dipaksakan ke Bantul, padahal hujan deras seperti itu, seorang Bapak menjawab:”Mumpung tanggal merah, mas…mumpung libur….pasti panjenengan dan mbak yenni kan ada dirumah. Kalo tidak tanggal merah, nanti kami kesini, njenengan pasti tidak ada. Lha tanggal merah yang bukan hari Minggu kan belum tentu sebulan sekali ada….iya tho?”. Aku hanya bisa tercekat mendengarnya. Semakin terenyuh ketika melihat mereka basah kuyup karena jas hujan tidak bisa menahan derasnya air (mereka ke rumah naik motor).

 

Malam hari, ketika semua tamu sudah pulang, kembali kurasakan ada sesuatu yang hilang. Kutatap kursi – kursi tempat mereka tadi duduk. Kembali teringat ketika mereka semua memelukku tatkala hendak kembali ke Medari. Setumpuk oleh – oleh yang mereka bawa membuatku dan suami terdiam lama dengan pikiran masing – masing. Ya Allah…kutahu bagaimana sederhananya kehidupan mereka sehari – hari…tetapi dari kesederhanaan itulah mereka justru tahu bagaimana nikmatnya memberi dan berbagi kepada orang lain.

 

Siang itu, sebelum pulang, kuingat seorang simbah duduk di desebelahku dan memegang tanganku seraya berkata: “Nek wong tuwo iku oleh ndongakke elek karo anakke, kulo arep ndungo, mugo2 panjenengan sekeluargo ora betah manggon ning Bantul trus bali ning Medari Gede. Tapi kuwi ora apik. Pancen aku ora ikhlas njenengan metu seko Medari Gede, tapi kulo tetep ndungo, mugo2 Gusti Allah maringke barakah maring panjenengan, urip luwih tentrem lan lancar rejeki ning Bantul . Kulo nyuwun pangapuro…mung dungo sing iso kulo paringke njenengan”.

 

 

Seorang tetangga baruku di Bantul, setelah kedatangan rombongan Medari Gede, tadi pagi bertanya padaku

“Mbak yenni dulu di Medari gede sudah lama banget ya?”

“Baru 1,5 tahun, bu”, jawabku.

Masih dengn nada bingung dia kembali bertanya, “Hmm…atau orangtua Mbak Yenni atao Mas Nur asli Medari Gede ya?”.

“Tidak, bu. Saya asli Palembang, orangtua saya dan saudara-saudara saya ada di Jakarta. Saya tidak punya saudara di Jogja. Mas Nur asli Tulungagung dan mertua saya sekarang juga tinggal di Tulungagung”.

“Tapi kok…..ehm…mereka bukan saudara?”

Aku cuma tersenyum. Aku tahu arah pertanyaannya.

Jika yang dimaksud saudara adalah saudara sedarah….bukan….mereka bukan saudara sedarah kami. Mereka “hanya” orang lain yang pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kami di sebuah Dusun di Medari Gede. Ya…mereka adalah masyarakat yang sederhana…bahkan sebagian diantara mereka sangat sederhana. Tetapi justru kesederhanaan mereka itu yang mampu mengajari kami banyak hal tentang kehidupan yang tidak akan kami temukan dibangku kuliah manapun.

 

Hari itu, aku semakin yakin bahwa cinta itu kutemukan di sebuah dusun bernama Medari Gede. Dari masyarakatnya yang dengan kelebihan dan kekuarangannya kami anggap demikian luar biasa. Sungguh…..Cinta itu kutemukan di Medari Gede

Teruslah Belajar…Malaikatku!

Posted on

Untuk Anugerah Terindah….
…semoga proses belajar yang kau lalui dalam waktu yang terus berjalan dapat menjadi pondasi penting untuk menjaga segala kejernihan fitrah mu hingga kelak kau tumbuh dewasa.

Doa kami…semoga kau akan senantiasa mencintai ilmu…senantiasa belajar dari segalanya…dan dapat memberikan manfaatnya kepada umat manusia.

Amiiin Allahumma Amiin….

Soeharto Sang “Guru Bangsa”??? (Diskusi Para Sahabat)

Posted on

Ingat diskusi sahabat-sahabatku 4 tahun yang lalu….cukup menarik…kebetulan atmosfirnya nyaris sama saat ini…menjelang gegap gempita (katanya) pesta demokrasi🙂.

Yenni's Blog

(Perdebatan tentang gelar “Guru Bangsa” oleh PKS bagi seorang Soeharto ternyata menjadi sebuah bahan diskusi yang menarik bagi banyak kalangan, mengingat segala track record yang dibuatnya di masa kekuasaan 32 tahun. Pro kontra pun bermunculan. Tak terkecuali tuduhan “antek Soeharto” terhadap PKS yang dikenal sebagai partai yang kukuh memegang idealisme tentang moralitas. Ide untuk mengangkat tema ini muncul dari seorang sahabat lama yang menyapa di kedua blog saya. Jujur, lontaran itu mengingatkan pada respon pertama saya ketika melihat iklan itu tayang perdana di televisi. Jengkel, gemes dan tentu saja sebuah tanda tanya. Bahkan suami saya sempat mengirimkan sebuah sms sebagai bahan diskusi kepada salah seorang sahabatnya yang seorang anggota DPRD.

 

Posting kali ini bukan murni tulisan saya, tapi berasal dari comment dari sahabat-sahabat saya yang mendiskusikan topik ini di blog saya (https://yennioctarina.wordpress.com). Meski comment  yang diberikan agak nggak nyambung karena di posting di artikel yang judulnya…

Lihat pos aslinya 1.295 kata lagi

Teruslah Belajar…Malaikatku!

Kutipan Posted on Updated on

Parents

TERUSLAH BELAJAR

Waktu berjalan demikian cepat, sejak “Teruslah belajar…malaikatku!” dibuat. Tak terasa sudah 5 tahun🙂

Aisya sekarang sudah 7 tahun…menimba ilmu di Year-2B di SDIT Lukman Al-Hakim Internasional. Aktifitas hariannya tak lepas dari buku, menulis diary nya, bermain biola, bermain dengan sahabat-sahabatnya di sekolah maupun di rumah…termasuk dengan Kevin dan Cici, sepasang hamster peliharaan anak-anak Year-2B SDIT LHI.

Apa yang kami harapkan 5 tahun lalu…alhamdulillahh saat ini sudah terlihat. Kecintaan Aisya pada buku, ketertarikannya pada segala aspek keilmuan, kepekaannya pada lingkungan…dan banyak hal yang membuat ayah bunda nya banyak belajar darinya…termasuk bagaimana Aisya yang selalu menjaga Sholat dan adab hariannya sebagai seorang muslimah.

Terimakasih Yaa Rabb…untuk hadiah terindah Mu pada kami…

Yang darinya…Kau mendidik kami….

We love u sweetheart….dan teruslah belajar, sayang…

Aisya in "May Song"
Aisya in “May Song”
Aisya..."The Super Excellent"! Kata Aisya: "Bunda...alhamdulillah...exam itu ternyata menyenangkan ya..."
Aisya…”The Super Excellent”! Kata Aisya: “Bunda…alhamdulillah…exam itu ternyata menyenangkan ya…”

Aisya…mau liburan ke kerumah nyai & Yai di Jakarta….berdua sama om Aldi. Alhamdulillah…sudah berani pergi sendiri tanpa ayah bunda🙂
Salah satu surat cinta Aisya untuk ayah bunda nya...
Salah satu surat cinta Aisya untuk ayah bunda nya…
Selalu semangaaaat berangkat ke sekolaaah. Kalo dijemput untuk pulang juga kadang suliiit banget...."I love my school...I love my friends....I lov emy teacherrs....I love everything abt my schoooll, bunda"
Selalu semangaaaat berangkat ke sekolaaah. Kalo dijemput untuk pulang juga kadang suliiit banget….”I love my school…I love my friends….I lov emy teacherrs….I love everything abt my schoooll, bunda”

Yenni's Blog

foto0121

“Anak baru dua tahun kok sudah disekolahin!” Selalu kalimat dan respon serupa yang keluar dari tetangga-tetanggaku ketika mereka tahu Aisya kusekolahkan Tahun Ajaran Baru ini. Bayangan mereka….sekolah ya penuh dengan aturan n instruksi, materi pelajaran yang membosankan dan membuat anak tertekan…atau bentakan dan tatapan tajam sang Guru…(he he mohon maaf buat Para Guru…tidak ada tendensi untuk memojokkan lho).  Lha padahal Aisya kan baru 2 tahun  (2 tahun 1 bulan tepatnya)…yang masih sering pake pampers, yang kalo ngomong masih cadel-cadel, yang belum mau duduk diam berlama-lama, yang baru bisa menangkap sedikit-sedikit instruksi dari orang dewasa…yang masih suka bertindak seenaknya….yang kalo bangun pagi jam 9.30…ya pokoknya seperti anak 2 tahun pada umumnya lah….

 

Lihat pos aslinya 618 kata lagi

Perjalanan

Posted on Updated on

Photo0218

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?”

..…Demi masa….Demi waktu…Demi usia…

Siapa yang bisa menentukan waktu?

….selain yang MAHA Pencipta waktu,

 

Detak jarum jam…

hanyalah pertanda waktu manusia yang berjalan,Photo0225

manusia hanya hamba…

yang menentukan adalah Sang Penentu…

maka….bersujudlah…

(Terimakasih sahabat…

doa senantiasa terpanjatkan untukmu…)

Yenni's Blog

Bismillaahi Arrahmaan Arrahiim….

Alhamdulillah…
Akhirnya ada sejenak waktu yang memberiku kesempatan untuk sekedar melongok lamanku ini, setelah 3 minggu lebih kutinggalkan. Lagi-lagi…dengan alasan pekerjaan…klise. Tapi ada sebuah alasan besar yang membuatku enggan untuk bersentuhan dengan dunia maya…peristiwa tak terduga di dunia maya yang berimplikasi pada dunia nyataku.

Lihat pos aslinya 492 kata lagi

Mungkinkah?

Posted on Updated on

Lagi – lagi aku kehilangan kata tuk menggambarkan bagaimana kekagetan ku atas kenekatan Israel pada iring-iringan Gaza Freedom Flotilla. Kalimat yang terlintas saat itu hanya satu lagi pikiran buruk tentang “US punya agenda penting apa yang membuatnya merasa perlu memakai tangan Israel untuk mengalihkan perhatian dunia ke atas geladak kapal Mavi Marmara?” Sejauh ini belum ada jawaban pasti atas suudzon ku itu…tapi ada satu jawaban yang pasti tentang bagaimana akhirnya US dan skutu Israel memposisikan diri terhadap pembantaian di Senin dini hari itu.

Puihhh….aku tak lagi ingin membahas tentang bagaimana brutalnya pasukan Israel menyerbu Mavi Marmara atau bagaimana bodohnya logika wacana yang dipakai Israel sebagai upaya counter media atas peristiwa penyerangan itu, tapi aku justru tertarik melihat reaksi kelompok-kelompok muslim atas peristiwa Senin dinihari itu. Pasti…sebagian besar dari kelompok muslim akan mengecam dan mengutuk tindakan Israel tersebut, tetapi anehnya (atau tepatnya…lucunya) ada juga kelompok muslim yang justru menganggap iring -iringan Gaza Freedom Flotilla adalah sebuah upaya dunia untuk menginjak – injak ekstistensi Israel sebagai sebuah negara merdeka? Ha??? Aku antara menahan tertawa dan mengumpat atas kebodohan nurani yang sudah menyelimuti logika berfikir mereka….

It’s not about religion anymore, man! It’s not abt Jesus or Mohammed…or Jews and moslem….
It’s abt hunger…life and humanity…

Tidak ada bahasa di dunia ini yang menyatakan bahwa memotong kebebasan hidup kelompok manapun adalah sebuah pembelaan diri. Dan tidak ada agama apapun didunia ini yang menyeru umatnya untuk membuat umat yang lain mati dalam kelaparan dan kebodohan…
Dan tidak ada Tuhan manapun yang menyatakan bahwa penindasan atas umat manusia adalah sebuah kebenaran.

Gara Freedom Flotilla bukan diprakarsai oleh seorang muslim. Huwaida Arraf adalah seorang kristen warga negara Israel dan suaminya Adam Saphiro sseorang Yahudi juga warga negara Israel. So, it’s not abt What’s ur faith anymore…it’s more than it!

Disudut umpatanku buat sekelompok orang dungu yang mengaku pintar itu….kutemukan sebuah laman dari seorang gadis Whasington yang meninggal 7 tahun lalu dalam usia 23 tahun…oleh lindasan Buldoser Israel akibat upayanya membela satu keluarga Palestina yang tak dikenalnya di Gaza. Rachel’s Corrie.
Tak banyak yang ingin kuceritakan tentang seorang Rachel….toh dunia sudah melihatnya sendiri. Namun melihat bagaimana orasinya di hadapan orang banyak tentang “humanity”…tentang kasih sayang…membuatku terhenyak…karena pidato itu dibuat oleh Rachel kecil yang berusia 10 tahun….

Sebuah puisi yang dibuatnya ketika dia berada di kelas 5 SD…membuatku tergelitik…andai semua orangtua mampu mendidik anaknya hingga memiliki sensitifitas sedalam itu tentang arti kemanusiaan…mungkin dunia ini tidak se-sakit sekarang. Mungkinkah?

(Puisi ini bisa dibaca langsung disini)

Fifth Grade Press Conference on World Hunger
By Rachel Corrie, aged 10 — 1990

I’m here for other children.
I’m here because I care.
I’m here because children everywhere are suffering and because forty thousand people die each day from hunger.
I’m here because those people are mostly children.
We have got to understand that the poor are all around us and we are ignoring them.
We have got to understand that these deaths are preventable.
We have got to understand that people in third world countries think and care and smile and cry just like us.
We have got to understand that they dream our dreams and we dream theirs.
We have got to understand that they are us. We are them.
My dream is to stop hunger by the year 2000.
My dream is to give the poor a chance.
My dream is to save the 40,000 people who die each day.
My dream can and will come true if we all look into the future and see the light that shines there.
If we ignore hunger, that light will go out.
If we all help and work together, it will grow and burn free with the potential of tomorrow.

Perjalanan

Posted on Updated on

Bismillaahi Arrahmaan Arrahiim….

Alhamdulillah…
Akhirnya ada sejenak waktu yang memberiku kesempatan untuk sekedar melongok lamanku ini, setelah 3 minggu lebih kutinggalkan. Lagi-lagi…dengan alasan pekerjaan…klise. Tapi ada sebuah alasan besar yang membuatku enggan untuk bersentuhan dengan dunia maya…peristiwa tak terduga di dunia maya yang berimplikasi pada dunia nyataku.

Baca entri selengkapnya »